TANGERANG, JAKARTAMU.COM | Pada awalnya, nama Dewi Astutik tak pernah muncul dalam pembicaraan warga Dukuh Sumber Agung, sebuah wilayah kecil di Kecamatan Balong, Ponorogo. Ia pergi bekerja ke luar negeri pada 2011 sebagai pekerja migran, seperti banyak perempuan desa lain yang memilih jalur serupa demi memperbaiki kehidupan keluarga. Tak ada yang mengira perjalanannya akan berujung pada babak yang begitu jauh dari bayangan siapa pun.
Di dokumen resmi kependudukan, identitas perempuan ini tercatat sebagai warga RT 01 RW 01. Namun kepolisian menemukan bahwa nama dalam KTP yang ia gunakan diduga milik saudara kandungnya. “Memang benar dia warga Ponorogo, namun identitas yang digunakan merupakan milik adiknya,” ujar Kapolres Ponorogo AKBP Andin Wisnu Sudibyo.
Bahkan perangkat desa dan warga setempat mengaku tak mengenal nama Dewi Astutik. Mereka justru melihat kemiripan wajahnya dengan seorang perempuan berinisial PA, yang memang telah lama menjadi tenaga kerja wanita dan hanya sesekali pulang ke kampung halaman.
Baca juga: Kejagung Tuntut Mati 73 Terdakwa Narkoba, Ini Alasannya

Selama bertahun-tahun di luar negeri, jejak Dewi perlahan menjauh dari lingkaran keluarganya. Informasi yang beredar menyebut ia menetap di kawasan Asia Tenggara, berpindah-pindah negara, dan pada akhirnya terlacak di Kamboja. Di luar pantauan masyarakat kampungnya, Dewi diduga mulai terhubung dengan jaringan narkotika internasional yang beroperasi antara Asia Timur dan Asia Tenggara—sebuah lingkaran gelap yang bergerak senyap namun terorganisir.
Puncak keterlibatannya terlihat dalam kasus besar pada Mei 2025, ketika BNN menggagalkan penyelundupan dua ton sabu dari jaringan Golden Triangle. Nama Dewi muncul sebagai salah satu aktor yang mengendalikan alur pengiriman. Ia juga dikaitkan dengan operasi narkotika jaringan Golden Crescent pada tahun sebelumnya. Skemanya bukan sekadar lintas negara; jaringan ini mengatur pengiriman kokain, sabu, hingga ketamin ke berbagai negara dengan pola distribusi yang rapi dan tersembunyi.
Aparat Korea Selatan ikut memasukkan namanya dalam daftar buronan. Interpol menerbitkan red notice. Pada titik ini, Dewi tak lagi sekadar pekerja migran; ia berubah menjadi figur yang diburu banyak negara.
Perburuan itu berakhir di Sihanoukville, Kamboja. Tim gabungan BNN, BAIS TNI, dan kepolisian setempat memantau pergerakannya selama berhari-hari, memetakan jaringan kontak dan rutinitasnya. Ketika Dewi bergerak menuju lobi sebuah hotel, tim langsung melakukan penindakan. Ia ditangkap tanpa perlawanan. Dari sana, Dewi dibawa ke Phnom Penh untuk proses verifikasi identitas sebelum akhirnya dipulangkan ke Indonesia melalui Bandara Soekarno–Hatta.
Baca juga: Tahun Baru 2025, Dirnarkoba Polda Metro Jaya Dipecat
Kepala BNN RI Komjen Pol Suyudi Ario Seto menyatakan bahwa penangkapan Dewi menjadi pintu bagi upaya lebih besar: membuka struktur jaringan yang selama ini membuat narkotika mengalir ke berbagai negara. Pemeriksaan lanjutan akan menelusuri alur pendanaan, logistik, dan pihak lain yang selama ini bergerak bersamanya.
Kabar penangkapan itu justru membingungkan warga Desa Balong. Gunawan, Kepala Dusun Sumber Agung, mengatakan tak pernah mengenal nama Dewi Astutik meski alamatnya sesuai dokumen. Seorang warga, Sri Wahyuni, menilai wajah Dewi mirip dengan PA, tetangganya yang menjadi tenaga kerja wanita dan pulang sebentar pada tahun lalu sebelum kembali ke luar negeri.
Sumber: Antara


