PUKUL 02.45, Jumat Kliwon, 10 September 2025. Saya baru saja tiba di Terminal Bus Solo setelah menempuh perjalanan dari Terminal Kampung Rambutan, Jakarta.
Saya segera masuk ke sebuah warung di dalam terminal, tepat di sebelah kanan Masjid Al-Musafir. Masjid ini luas dan terawat, menjadi tempat singgah bagi para penumpang yang ingin beribadah. Setiap kali transit, saya sering menunaikan salat wajib di sana.
Dibandingkan dengan masjid di terminal kota besar lainnya, Masjid Al-Musafir di kawasan Terminal Solo ini termasuk yang terluas dan terbaik. Letaknya sekitar satu kilometer dari Stasiun Kereta Api Solo Balapan. Di sekitar kawasan itulah, pada 22 November 1965 sekitar pukul 23.00, D.N. Aidit—saat itu menjabat Menko merangkap Wakil Ketua MPRS sekaligus Ketua PKI—ditangkap di rumah Kasim, seorang pegawai Jawatan Kereta Api. Dini hari berikutnya, 23 November 1965, ia dieksekusi di Boyolali, sekitar 25 kilometer dari Solo.
Pada 1970–1980-an, terminal bus Solo masih berada di dalam kota, tepatnya di Gemblegan, dekat Alun-alun Selatan. Saya masih mengingat dengan jelas perjalanan pulang kami ke Delanggu, sekitar 20 kilometer dari Rumah Sakit Kadipolo, pada Januari 1965 yang bertepatan dengan bulan Ramadan. Siang itu, kami menjenguk ibu kami, Sunarni, yang dirawat karena kanker di Rumah Sakit Kadipolo. Menjelang subuh hari pertama Ramadan 1384 Hijriah, atau Januari 1965, ibu berpulang ke rahmat Allah. Saat itu saya berusia sembilan tahun kurang empat bulan.

Keempat adik saya masih kecil: almarhum Bambang Sutono berusia tujuh setengah tahun, Sri Wahyuni enam tahun, almarhum Tri Murtono empat tahun, dan Sri Agustini yang masih berusia dua tahun. Kedua adik perempuan saya kemudian tumbuh menjadi guru dan tenaga kesehatan, keduanya lulusan S2 dan kini telah pensiun, tinggal di Sragen dan Delanggu. Dua adik laki-laki saya telah lebih dahulu meninggal: Bambang dimakamkan di Surabaya pada 2004, dan Tri di Delanggu pada 1984.
Ibu kami dimakamkan di Desa Jombor, Ceper, Delanggu, di pemakaman keluarga Mbah Lurah Djojopuruso. Ibu sambung kami, Ngadinah, kemudian mendampingi ayah hingga akhir hayatnya. Ayah wafat pada 1993 di Rumah Sakit Khususiyah An Nur di kawasan Aziziah, Mekkah, setelah sempat dirawat di RS Mina seusai melontar jumrah Aqabah. Ia dimakamkan di TPU Ma’ala, Mekkah Al-Mukarramah.
Mengenang perjalanan hidup keluarga membuat saya menyadari bahwa setiap manusia akan menempuh waktunya masing-masing. Tidak ada yang dapat mempercepat atau memperlambat ketetapan Allah. Segala sesuatu akan terjadi tepat pada waktunya.
Salat, puasa, zakat, dan haji adalah bagian dari rukun Islam yang dijalani dengan kesadaran dan keikhlasan. Hidup menjadi bermakna bila seluruh amal disertai upaya menegakkan kebaikan dan mencegah keburukan, dalam hubungan dengan sesama maupun dengan Sang Pencipta.
Saya juga berencana mengunjungi dua adik yang masih hidup. Kami semua sudah berusia lanjut, namun berharap masa tua ini tetap memberi manfaat bagi orang lain. Solo Raya, dengan enam kabupatennya, adalah wilayah yang memberi kami tempat untuk tumbuh dan belajar. Setelah 18 tahun tinggal di Jawa Tengah, saya melanjutkan hidup di Semarang, Bandung, dan akhirnya menetap di Jakarta selama 41 tahun.
Di Jakarta, banyak halaman kehidupan telah saya lalui. Sebagian di antaranya menyisakan kenangan, termasuk peristiwa 1965 yang masih menyimpan sisi-sisi tak terungkap. Bagi banyak orang, keterlibatan PKI dalam peristiwa itu tidak lagi diragukan.
Pada dini hari Jumat Legi, 30 September 1965, kekerasan meletus. Malam itu berubah menjadi titik kelam dalam sejarah bangsa. PKI kembali menunjukkan wataknya yang memusuhi negara dan menentang ajaran Islam. Sejarah mencatat, sejak November 1945 hingga Februari 1947, kelompok sosialis kiri perlahan bermetamorfosis menjadi PKI yang sesungguhnya, sebelum akhirnya memberontak di Madiun pada 1948.
Saya kembali ke Solo untuk menyusuri jejak masa itu—bukan hanya dalam catatan sejarah, tapi juga dalam ingatan yang masih tersisa. Situasi politik hari ini mengingatkan saya pada suasana menjelang 1965: saling curiga, kabar simpang siur, dan batas kabur antara kawan dan lawan.
Sejarah memberitahu bahwa sejak awal Oktober 1965, D.N. Aidit melarikan diri ke Solo, kota yang dulu juga menjadi tempat kebangkitannya setelah 1948. Namun pada November 1965, ia tak lagi bisa bersembunyi. Nasibnya berakhir tragis di Boyolali, Senin Pahing, Rajab 1385 Hijriah atau 22 November 1965. (*)


