​8 Juta Warga AS Demonstrasi Tolak Kepemimpinan Donald Trump

Must Read

JAKARTAMU.COM | Gelombang aksi unjuk rasa besar-besaran mengguncang Amerika Serikat (AS), Minggu (29/3/2026). Sedikitnya delapan juta warga di seantero Negeri Paman Sam turun ke jalan dalam gerakan nasional bertajuk ”No Kings”.

Unjuk rasa ini menjadi salah satu mobilisasi massa terbesar dalam sejarah AS yang dipicu kebijakan luar negeri Presiden Donald Trump, khususnya dalam perang di Iran, serta kondisi ekonomi domestik yang kian menghimpit. Koalisi ”No Kings” selaku penyelenggara melaporkan bahwa demonstrasi berlangsung serentak di lebih dari 3.300 lokasi yang tersebar di 50 negara bagian.

Di pusat-pusat kota seperti Washington DC, New York, hingga Minnesota, lautan massa membawa berbagai poster kritik. Salah satu seruan yang paling menggema adalah ”End This War” (Hentikan Perang Ini), sebuah tuntutan langsung agar Washington segera mengakhiri eskalasi militer di Timur Tengah.

​Aksi ini bukan sekadar luapan emosi sesaat, melainkan akumulasi dari ketegangan yang terjadi selama empat pekan terakhir menyusul serangan militer Amerika Serikat dan Israel ke Iran. Publik khawatir keterlibatan militer yang lebih jauh akan menyeret dunia ke dalam konflik yang tak berkesudahan dan berdampak fatal pada ekonomi global.

Milad 117 H Muhammadiyah

Krisis Kepercayaan

​Besarnya jumlah massa yang terlibat menunjukkan adanya krisis kepercayaan yang serius terhadap kepemimpinan Donald Trump. Berdasarkan data terbaru, tingkat kepuasan publik terhadap presiden ke-47 AS tersebut merosot tajam ke angka 36 persen.

​Selain isu perang, kemarahan publik dipicu oleh lonjakan harga kebutuhan pokok dan bahan bakar minyak yang kian tak terkendali. Kebijakan imigrasi yang dinilai agresif dan diskriminatif juga menjadi poin utama yang digugat oleh para demonstran.

​Tokoh-tokoh publik turut memberikan legitimasi pada gerakan ini. Aktor kawakan Robert De Niro tampak bergabung dalam aksi di New York City, menyuarakan keprihatinannya atas arah kebijakan pemerintah yang dinilai menjauh dari nilai-nilai demokrasi.

​Di Washington DC, aksi di Lincoln Memorial berlangsung emosional ketika sekelompok ibu keturunan Palestina mengibarkan bendera raksasa sebagai protes atas dampak kemanusiaan dari kebijakan luar negeri AS. Meskipun di beberapa titik seperti Florida sempat terjadi ketegangan dengan kelompok pendukung Trump, secara umum aksi ”No Kings” berlangsung damai di bawah pengawalan ketat aparat keamanan.

Menanti Respons Gedung Putih

​Pihak penyelenggara menyatakan jumlah peserta masih sangat mungkin bertambah melampaui sembilan juta orang seiring dengan terus masuknya laporan dari daerah-daerah terpencil. Mobilisasi ini dipandang sebagai pesan kuat bagi Gedung Putih bahwa kebijakan konfrontatif di luar negeri tidak mendapat dukungan di dalam negeri.

​Hingga berita ini diturunkan, belum ada respons resmi yang komprehensif dari Gedung Putih terkait tuntutan massa. Namun, tekanan dari jalanan ini diperkirakan akan memengaruhi posisi tawar AS dalam rencana pertemuan dengan pihak Iran yang dijadwalkan berlangsung pekan ini.

​Bagi warga AS, gerakan ”No Kings” adalah pengingat bahwa dalam sistem demokrasi, kekuasaan tertinggi tetap berada di tangan rakyat, bukan pada kebijakan sepihak pemimpinnya.

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This