JAKARTAMU.COM | “Lebih baik terpaksa masuk surga daripada sukarela masuk neraka.” Kalimat itu dilontarkan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dr. Agus Taufiqurrahman, Sp.S., M.Kes saat berbicara tentang pengajian, forum yang menentukan hidup atau matinya persyarikatan.
Dalam Pengajian Hari Bermuhammadiyah di Gedung Dakwah Muhammadiyah, Kramat, Jakarta Pusat, Sabtu (3/1/2026), Agus mengungkapkan soal keluhan sebagian anggota amal usaha Muhammadiyah (AUM) yang merasa hadir di pengajian karena kewajiban. Mereka terpaksa datang karena harus mengisi daftar hadir.
Agus menilai keberatan semacam itu tidak perlu dibesar-besarkan. Menurut dia, keterpaksaan dalam konteks pengajian bukan persoalan, selama forum tersebut terus dijalankan. “Tidak apa-apa datangnya terpaksa. Lebih baik terpaksa masuk surga daripada sukarela masuk neraka,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kebiasaan yang diawali dengan keterpaksaan bisa berujung pada kesadaran. Kehadiran yang berulang akan membentuk rutinitas, lalu memunculkan pemahaman. Dari situ, pengajian berfungsi sebagai ruang pembinaan, bukan sekadar formalitas.

“Awalnya mungkin terpaksa, tapi lama-lama terbiasa. Kalau masih ada yang mengeluh, itu justru tanda kewajibannya belum boleh dicabut,” kata Agus.
Lebih jauh, Agus menyebut maraknya pengajian adalah indikator utama eksistensi Muhammadiyah. Ia menegaskan, persyarikatan tidak cukup dikenali lewat kampus, sekolah, atau rumah sakit yang megah. “Hidup-matinya Muhammadiyah itu terlihat dari pengajiannya,” ujarnya.
Karena itu, ia meminta pimpinan Muhammadiyah di semua tingkatan—dari wilayah hingga cabang—untuk serius mengelola pengajian, termasuk di masjid-masjid Muhammadiyah. Pengelolaan tersebut menyangkut semua aspek, dari jadwal dan kehadiran hingga substansi materi.
Menjelang Ramadan, ia secara khusus mengingatkan pentingnya penyusunan kurikulum atau tema kajian yang berkesinambungan. Tanpa perencanaan, pengajian berisiko berjalan di tempat dan membuat jemaah kehilangan minat. “Dari penceramah satu ke penceramah lain harus ada sambungan. Kalau tidak, ayatnya sama, bahasannya sama,” ujarnya.
Agus bahkan menggambarkan situasi yang kerap berulang setiap Ramadan. “Hari pertama sampai hari kelima jamaah sudah bisa menebak: pasti ‘kutiba ‘alaikumus siyam’ lagi,” katanya.
Menurut dia, pengajian yang dirancang secara berkelanjutan akan menjaga daya hidup dakwah Muhammadiyah, sekaligus memastikan forum tersebut tetap relevan bagi jamaah, baik yang datang karena kesadaran maupun karena kewajiban.


