Apakah yang Disebut Seni? Apakah Islam Benar-Benar Menolak Seni?

Must Read
Miftah H. Yusufpati
Miftah H. Yusufpati
Sebelumnya sebagai Redaktur Pelaksana SINDOWeekly (2010-2019). Mulai meniti karir di dunia jurnalistik sejak 1987 di Harian Ekonomi Neraca (1987-1998). Pernah menjabat sebagai Pemimpin Redaksi Majalah DewanRakyat (2004), Wakil Pemimpin Harian ProAksi (2005), Pemimpin Redaksi LiraNews (2018-2024). Kini selain di Jakartamu.com sebagai Pemimpin Umum Forum News Network, fnn.co.Id. dan Wakil Pemimpin Redaksi Majalah FORUM KEADILAN.

JAKARTAMU.COM | Di sebuah ruang kelas seni rupa di Yogyakarta, seorang dosen bertanya pada mahasiswanya: “Bolehkah seorang muslim melukis wajah manusia?” Pertanyaan itu memancing gelak tawa sekaligus keraguan. Di balik kanvas, isu lama kembali hidup: apakah Islam benar-benar menolak seni?

Pertanyaan ini sejatinya bukan milik zaman modern. Sejak awal Islam lahir, perdebatan tentang posisi seni sudah menyertai. Al-Qur’an sendiri, dalam banyak ayatnya, bicara tentang patung, pahatan, dan karya estetika. Namun sikap terhadapnya tidak tunggal.

Sayyid Quthb, dalam al-Tashwir al-Fanni fi al-Qur’an (1960), menulis bahwa pada masa Nabi dan sahabat, kesenian belum menampakkan “warna Islami” yang jelas. Alasannya sederhana: masyarakat Arab ketika itu masih dalam proses membersihkan sisa-sisa jahiliah. Seni yang tumbuh rentan membawa kembali nuansa paganisme.

Karenanya, menurut Quthb, sikap kehati-hatian Nabi terhadap ekspresi seni perlu dipahami dalam konteks itu: bukan penolakan mutlak, melainkan pengendalian agar nilai tauhid tidak terganggu.

Milad 117 H Muhammadiyah

Patung: Antara Larangan dan Anugerah

Al-Qur’an menyebut patung dalam beberapa kisah kunci. Dalam surah al-Anbiya (21): 51–58, Nabi Ibrahim menghancurkan berhala-berhala, kecuali yang terbesar. Tafsir klasik menjelaskan, sikap itu simbol bahwa bukan patungnya yang salah, tetapi penyembahannya.

Di sisi lain, Nabi Sulaiman justru dikisahkan mendapat anugerah patung dari para jin (QS Saba [34]: 13). Dalam Tafsir al-Qurthubi, patung itu terbuat dari kaca dan marmer, menggambarkan nabi dan ulama terdahulu. Karena tidak disembah, karya itu dipandang bagian dari nikmat Allah.

Nabi Isa pun, menurut QS Ali Imran (3): 49, membuat burung dari tanah liat yang kemudian hidup atas izin Allah. Di sini, pembuatan patung tidak ditolak, sebab konteksnya mukjizat, bukan penyembahan.

Kaum Tsamud dikenal piawai memahat gunung-gunung menjadi rumah (QS al-A’raf [7]: 74). Karya mereka indah, nyaris hidup. Namun Allah menantang keahlian itu dengan mukjizat unta yang benar-benar lahir dari batu (QS al-Syu’ara [26]: 155–156). Ketika kaum Tsamud membunuh unta tersebut, azab pun turun.

Bagi mufasir, kisah ini menegaskan: keterampilan seni adalah nikmat, tapi harus mengantar pada pengakuan akan kebesaran Allah, bukan kesombongan manusia.

Mengapa Patung Dilarang?

Syaikh Muhammad al-Thahir bin Asyur, dalam al-Tahrir wa al-Tanwir (abad ke-20), menegaskan bahwa Islam melarang patung bukan karena objeknya buruk, tetapi karena ia menjadi sarana kemusyrikan. Di jazirah Arab abad ke-7, hampir semua berhala berbentuk patung. Karena itu, larangan menjadi wajar.

Namun, ketika patung tidak berfungsi sebagai sesembahan—seperti pada masa Nabi Sulaiman—ia dapat diterima. Seni dipersoalkan bukan pada wujudnya, melainkan pada peran sosial-religiusnya.

Quraish Shihab dalam Wawasan Al-Qur’an (1996) menulis, jika seni membawa manfaat, memperindah hidup, mengabadikan nilai luhur, dan memperhalus rasa keindahan, maka sunnah Nabi mendukungnya. Seni bukan musuh, tetapi nikmat yang harus disyukuri.

Pandangan serupa disampaikan Muhammad Imarah dalam Ma‘alim al-Manhaj al-Islami (1987). Baginya, seni adalah salah satu anugerah Allah yang memperkaya jiwa manusia. Jika diarahkan pada tujuan benar, ia menjadi bagian dari ibadah.

Benang Merah: Seni, Iman, dan Fungsi Sosial

Seni dalam Islam ternyata bukan sekadar persoalan estetika, melainkan etika. Ia diterima sepanjang tidak menjerumuskan pada syirik. Ia dihargai ketika menjadi pengingat nilai luhur.

Dari Ibrahim yang menghancurkan berhala, Sulaiman yang menerima patung sebagai anugerah, hingga Isa yang meniup tanah liat menjadi burung—benang merahnya sama: seni dipahami dalam konteks iman.

Maka, pertanyaan “Apakah seni Islami itu?” mungkin tak perlu dijawab dengan bentuk tunggal. Ia lebih tepat dipahami sebagai ruang: ruang di mana keindahan bertemu dengan ketauhidan. (*)

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This