JAKARTAMU.COM | Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan dana pemerintah sebesar Rp200 triliun yang selama ini tersimpan di Bank Indonesia (BI) akan mulai dipindahkan ke perbankan besok.
“Tidak ada batas waktu prosesnya. Besok sudah masuk ke bank,” ujar Purbaya saat diwawancarai usai menghadiri acara Great Lecture di Jakarta, Kamis.
Ia tidak merinci bank mana saja yang akan menjadi penerima, tetapi menegaskan bahwa bank-bank milik negara (Himbara) termasuk dalam skema tersebut. Mengenai regulasi, Purbaya menegaskan penarikan ini tidak memerlukan Peraturan Menteri Keuangan baru.
Kebijakan ini muncul di tengah situasi perekonomian yang menunjukkan tanda perlambatan. Badan Pusat Statistik mencatat pertumbuhan ekonomi kuartal II 2025 sebesar 5,12% secara tahunan, tetapi berbagai proyeksi memperkirakan laju bisa turun ke kisaran 4,6–5%. Salah satu penyebabnya adalah konsumsi rumah tangga yang tertekan akibat melemahnya daya beli masyarakat.

Di sisi fiskal, belanja pemerintah juga dinilai lambat. Data menunjukkan sebagian besar anggaran masih tertahan, dengan dana pemerintah yang parkir di BI mencapai Rp425 triliun. Kondisi ini dianggap kontra-produktif karena sistem keuangan domestik membutuhkan tambahan likuiditas untuk menjaga agar roda ekonomi tetap berputar.
Sementara itu, di sektor perbankan, indikator likuiditas masih memadai namun mulai ketat. Rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) sejumlah bank besar mendekati 92–95%, artinya ekspansi kredit berjalan cepat sementara dana pihak ketiga tidak bertambah seimbang. Walau rasio Liquidity Coverage Ratio (LCR) masih terjaga di atas 190% dan rasio Alat Likuid/Non-Core Deposit (AL/NCD) per Juni 2025 mencapai 118,78%, ada sinyal perlunya tambahan amunisi likuiditas agar biaya dana (cost of fund) tidak melonjak.
Di sisi moneter, Bank Indonesia baru saja memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,00% pada Agustus 2025. Pelonggaran ini memberi ruang bagi bank untuk menurunkan bunga kredit, tetapi dampaknya terbatas bila dana segar tidak segera masuk ke sistem.
Likuiditas untuk Memompa Pasar
Menurut Purbaya, penempatan dana pemerintah di perbankan akan menambah likuiditas dan memaksa mekanisme pasar bekerja lebih optimal. “Bank akan mencari cara menyalurkan dana itu agar tidak membebani biaya dana, sekaligus mengejar return yang lebih baik. Kita kasih senjata ke mereka, biar bank berpikir lebih keras,” jelasnya.
Kebijakan ini juga sudah mendapat restu Presiden Prabowo Subianto. Dalam jumpa pers di Istana Kepresidenan, Rabu malam, Purbaya mengatakan kepala negara menyetujui langkah penarikan Rp200 triliun dari total simpanan Rp425 triliun pemerintah di BI. “Sudah, Presiden setuju,” katanya singkat.
Dengan tambahan likuiditas ini, pemerintah berharap perbankan lebih agresif menyalurkan kredit ke sektor produktif. Efek ganda diharapkan muncul: konsumsi kembali meningkat, investasi mendapat pembiayaan, dan pertumbuhan ekonomi bisa kembali mendekati target pemerintah di atas 5%.
Kebijakan ini juga dianggap sebagai bentuk sinergi fiskal dan moneter. Setelah BI menurunkan suku bunga, langkah Kemenkeu mengalirkan dana ke bank memberi dorongan tambahan agar transmisi kebijakan moneter berjalan lebih efektif. (*)


