AIR bersih adalah kebutuhan dasar manusia yang tak tergantikan. Ia tidak hanya menopang kehidupan fisik, tetapi juga berkaitan langsung dengan pelaksanaan ibadah—dari wudu hingga mandi wajib. Karena manfaatnya menyentuh semua lapisan masyarakat, Rasulullah SAW menempatkan sedekah air sebagai salah satu amal paling utama.
Dalam hadis riwayat An-Nasai, Sa’ad bin Ubadah radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya, “Wahai Rasulullah, ibuku telah meninggal dunia. Apakah boleh aku bersedekah atas namanya?” Rasulullah menjawab, “Boleh.” Sa’ad kemudian bertanya lagi, “Sedekah apa yang paling utama?” Rasulullah menjawab, “Memberi minum air.” (HR. An-Nasai, no. 3694–3695).
Kesadaran tentang pentingnya air juga kerap menjadi sorotan di ruang publik. Beberapa waktu lalu, sebuah video viral memperlihatkan Gubernur Jawa Barat saat itu, Dedi Mulyadi, meninjau proses produksi di pabrik air minum dalam kemasan merek Aqua di Subang, Jawa Barat. Ia terkejut ketika mengetahui air yang digunakan berasal dari sumur bor.
“Kalau pabrik lain bahan bakunya harus beli. Tapi perusahaan ini bahan bakunya nggak beli. Ini kita pajak air tanah,” ujarnya kala itu. Pernyataan tersebut menggambarkan bagaimana sumber daya air bisa bernilai ekonomi tinggi. Tetapi di saat yang sama dia menyimpan potensi persoalan keadilan dalam pengelolaannya.

Namun di tempat lain, air justru dibagikan tanpa pamrih. Di Masjid Raya Taqwa, Kota Metro, Lampung, air bersih siap minum tersedia gratis bagi siapa pun yang membutuhkan. Tidak dijual, tidak dibatasi, cukup ambil seperlunya. Lokasi masjid ini berada di Jalan Letjen Alamsyah Ratu Prawira Negara Nomor 1, Imopuro, Metro Pusat.
Masjid Raya Taqwa dikenal sebagai ikon religius Kota Metro. Bangunannya megah dengan desain modern, dikelilingi halaman luas dan teduh. Letaknya yang bersebelahan dengan Taman Merdeka membuatnya sering menjadi tempat singgah para musafir atau warga yang beristirahat di sela perjalanan. Di antara fasilitasnya, keberadaan air bersih gratis menjadi simbol kepedulian sosial yang sederhana namun bermakna.
Sedekah air di masjid ini menghidupkan kembali semangat yang diajarkan Nabi: berbagi sesuatu yang paling dibutuhkan tanpa mengharap imbalan. Di saat air bisa menjadi komoditas bernilai tinggi, masih ada ruang di mana air mengalir sebagai amal, bukan barang dagangan.


