Bertemu BEM Muhammadiyah, HNW Dorong Mahasiswa Jadi Kekuatan Moral Demokrasi

Must Read

JAKARTAMU.COM | Wakil Ketua MPR RI, Dr. Hidayat Nur Wahid, M.A (HNW), menerima kunjungan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Perguruan Tinggi Muhammadiyah–’Aisyiyah (PTMA) Zona III di Gedung Nusantara III, Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (7/1/2026). Pertemuan tersebut membahas dinamika politik terkini sekaligus menyampaikan undangan kepada HNW untuk hadir sebagai pembicara utama dalam Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) BEM PTMA Zona III yang akan digelar di Bandung, 12–14 Februari mendatang.

Dalam pertemuan itu hadir delapan mahasiswa, di antaranya Presidium Nasional BEM PTMA Zona III Wildan Mutaqin, Presiden Mahasiswa Universitas Teknologi Muhammadiyah Jakarta (UTMJ) Sauqi, serta Presiden Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (Uhamka) Agus.

Apresiasi Keterbukaan
Mahasiswa menilai HNW sebagai salah satu politisi nasional yang terbuka dan mudah ditemui. “Tidak semua pejabat publik memiliki keterbukaan yang sama. Kehadiran beliau dalam forum-forum kecil sekalipun menjadi catatan penting bagi kami,” ujar Wildan Mutaqin.

Selain menyampaikan apresiasi, mahasiswa juga melontarkan kritik terhadap mahalnya biaya politik, lemahnya kaderisasi, serta fenomena perpindahan kader antarpartai yang dinilai pragmatis. Mereka menyoroti konsistensi ideologis PKS dalam sejumlah isu, termasuk penolakan pemindahan ibu kota ke IKN, yang menurut mereka tidak selalu berbanding lurus dengan perolehan suara elektoral.

Milad 117 H Muhammadiyah

Demokrasi Penuh Paradoks
Menanggapi hal itu, HNW menekankan bahwa politik dan demokrasi memang sarat paradoks. “Tidak selalu ada hubungan lurus antara kebenaran gagasan, konsistensi sikap, dan hasil elektoral. Prinsip kami sederhana, nilai yang kami perjuangkan tetap harus diperjuangkan, baik dipilih maupun tidak,” ujarnya.

Ia menambahkan, demokrasi Indonesia masih menghadapi tantangan besar, mulai dari biaya politik yang tinggi, praktik politik uang, lemahnya penegakan netralitas aparat, hingga rendahnya literasi politik masyarakat. “Menyalahkan rakyat semata tidak adil. Pembenahan harus dimulai dari hulunya: sistem kepartaian, rekrutmen politik, penegakan hukum, dan komitmen elite politik,” kata HNW.

Mahasiswa Sebagai Obor
HNW mengingatkan mahasiswa agar tidak terjebak dalam apatisme. Menurutnya, mahasiswa justru harus menjadi sumber optimisme dan pencerahan. “Daripada mengutuk gelapnya malam, lebih baik menyalakan obor. Satu obor memang kecil, tapi jika dinyalakan bersama, cahaya akan semakin terang,” tuturnya.

Ia menegaskan, alternatif dari demokrasi bukanlah sesuatu yang lebih baik. Tanpa demokrasi, bangsa berisiko jatuh pada otoritarianisme, tirani, atau ekstremisme. Karena itu, pilihan terbaik adalah memperbaiki demokrasi, bukan meninggalkannya.

Ruang Partisipasi Terbuka
HNW juga menekankan bahwa ruang partisipasi publik masih terbuka. Di DPR, terdapat Badan Aspirasi Masyarakat yang bertugas menerima dan menindaklanjuti aspirasi rakyat. “Mahasiswa dapat memanfaatkan ruang ini untuk menyampaikan gagasan, termasuk terkait revisi undang-undang pemilu dan pilkada,” ujarnya.

Ia berharap aktivis mahasiswa Muhammadiyah dan ’Aisyiyah tetap istiqamah berada di jalur idealisme, menjadi kekuatan moral, serta terus mencerahkan rakyat dan opini publik. “Politik nilai harus berpihak pada rakyat, berkeadilan, berkeadaban, dan berorientasi pada kemajuan bangsa,” pungkas HNW.

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This