Cara Mudah Belajar Matematika adalah Mengubah Pola Pikir

Must Read

SAMPAI hari ini sebagian besar siswa menganggap matematika sebagai momok. Mereka merasa angka-angka, rumus, dan simbol dalam matematika begitu rumit, bahkan menakutkan. Ketika guru menyebut kata “matematika”, sebagian murid langsung kehilangan rasa percaya diri. Padahal, kesulitan itu sering kali bukan berasal dari pelajarannya sendiri, melainkan dari cara pandang terhadapnya.

Mindset, atau pola pikir, menjadi kunci penting dalam hal ini. Mindset merupakan kumpulan keyakinan, asumsi, dan cara berpikir seseorang yang membentuk sikap, perilaku, serta kebiasaannya. Dalam dunia pendidikan, mindset berperan besar dalam menentukan bagaimana siswa memaknai pelajaran yang mereka hadapi. Jika sejak awal seseorang meyakini bahwa matematika adalah pelajaran yang sulit, maka keyakinan itu akan menjadi hambatan tersendiri.

Guru Besar Matematika, Prof. Dr. H. Irwan Akib dalam acara Peningkatan Kapasitas Praktik Baik Sekolah/Madrasah dalam Mengoptimalkan Growth Mindset dan Pembelajaran Mendalam di Hotel Borobudur, Rabu (15/10/2025). Foto: jakartamu.com/noor fajar asa

Hal tersebut diungkapkan oleh Guru Besar Matematika, Prof. Dr. H. Irwan Akib, dalam acara Peningkatan Kapasitas Praktik Baik Sekolah/Madrasah dalam Mengoptimalkan Growth Mindset dan Pembelajaran Mendalam yang diselenggarakan oleh Majelis Dikdasmen & PNF PP Muhammadiyah bekerja sama dengan UNICEF dan Save The Children di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Rabu (15/10/2025).

“Harapan kita dengan pendekatan ini anak-anak bisa lebih paham dan kualitasnya meningkat. Maka itu, pola pikir siswa perlu dibangun,” ujar Irwan.

Milad 117 H Muhammadiyah

Salah satu penyebab utama sulitnya matematika justru berasal dari keyakinan keliru yang diwariskan dari guru ke siswa. “Dulu, kami sering disosialisasikan bahwa yang bisa belajar matematika hanyalah orang-orang tertentu. Padahal, yang membuat matematika terasa sulit bukan materinya, melainkan gurunya sendiri. Kadang guru tanpa sadar menanamkan stigma bahwa sebagian siswa tidak akan sanggup mempelajari matematika,” ujarnya.

Pernyataan Irwan menggarisbawahi pentingnya growth mindset — pandangan bahwa kemampuan seseorang dapat berkembang melalui usaha dan proses belajar. Berbeda dengan fixed mindset yang menganggap kemampuan bersifat bawaan dan tetap, growth mindset membuka ruang bagi perubahan dan kemajuan. Dalam konteks pembelajaran matematika, pendekatan ini menumbuhkan keyakinan bahwa setiap siswa memiliki potensi untuk memahami dan menguasai pelajaran tersebut jika diberi kesempatan, bimbingan, dan pengalaman belajar yang tepat.

Foto: jakartamu.com/noor fajar asa

Selain membahas growth mindset, kegiatan tersebut juga menyoroti konsep pembelajaran mendalam (deep learning). Pendekatan ini melengkapi metode pembelajaran konvensional dengan cara yang lebih manusiawi dan menyeluruh. Pembelajaran mendalam berupaya membangun suasana belajar yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan — tidak sekadar berfokus pada hasil, tetapi juga pada proses.

Dalam pembelajaran yang berkesadaran, siswa didorong menjadi pembelajar aktif yang mampu mengatur dirinya sendiri. Mereka memahami tujuan belajar, memiliki motivasi dari dalam diri, dan secara sadar mencari strategi untuk mencapai tujuan tersebut.

Pembelajaran yang bermakna memungkinkan siswa merasakan relevansi antara apa yang mereka pelajari dan kehidupan nyata. Pengetahuan tidak lagi sekadar untuk menjawab ujian, tetapi untuk diterapkan dalam situasi konkret.

Sementara itu, pembelajaran yang menggembirakan menciptakan suasana kelas yang positif dan menantang, di mana setiap siswa merasa dihargai atas keterlibatannya. Dalam kondisi ini, hubungan emosional antara siswa dan proses belajar terjalin lebih kuat. Siswa lebih mudah memahami, mengingat, dan menggunakan kembali apa yang telah mereka pelajari.

Melalui growth mindset dan pembelajaran mendalam, matematika tidak lagi dipandang sebagai bidang yang menakutkan. Ia bisa menjadi wahana untuk melatih logika, kesabaran, dan ketekunan — nilai-nilai yang berguna jauh di luar ruang kelas. Seperti kata Prof. Irwan, ketika pola pikir diperbaiki, belajar matematika bukan lagi perkara sulit. Yang diperlukan hanyalah keberanian untuk mulai percaya bahwa belajar itu proses yang bisa dinikmati.

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This