Hafal Al-Qur’an 30 Juz, Paham Berapa Ayat?

Must Read

DEMAM tahfiz merambah ruang-ruang kelas. Dalam beberapa tahun terakhir, menjadi hafiz Al-Qur’an menjelma cita-cita baru banyak orang tua. Sekolah-sekolah tahfiz tumbuh cepat, menawarkan target hafalan satu, tiga, hingga 30 juz. Ada kebanggaan lantaran keyakinan bahwa penghafal Al-Qur’an membawa kemuliaan bagi keluarga.

Fenomena itu juga menjangkau sekolah-sekolah Muhammadiyah. Program tahfiz hadir sebagai daya tarik baru dalam persaingan lembaga pendidikan. Pada pembukaan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Jumat, 13 Februari 2026, di Hotel Four Points Makassar, Sulawesi Selatan, Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Abdul Mu’ti, menyampaikan catatan yang memantik renungan.

“Sekolah Muhammadiyah banyak yang ikut-ikutan membuka program tahfiz, karena meniru lembaga lain yang kebetulan membuka program itu dan berhasil menyerap banyak murid,” ujar Abdul Mu’ti.

Ia mengingatkan agar sekolah tidak tergoda menghadirkan semua program sekaligus. “Kita jangan ingin semuanya ada. Cukup satu saja, tapi fokus untuk dapat diunggulkan.”

Milad 117 H Muhammadiyah

Ia tidak menampik bahwa menghafal Al-Qur’an adalah kebaikan. Namun, ada hal yang menurutnya lebih mendasar. Pemahaman terhadap isi Al-Qur’an harus berjalan beriringan dengan hafalan.

“Ke depan jangan sampai secara verbal anak-anak kita piawai melantunkan ayat suci, namun mereka tidak paham maknanya, apalagi sampai mengimplementasikannya dalam kehidupan pribadi dan di masyarakat,” katanya.

Abdul Mu’ti bahkan berbagi pengalaman pribadi dengan nada ringan. “Hafal Qur’an itu bagus. Apalagi jika bisa tembus sampai 30 juz. Namun, saya sendiri baru bisa Juz 30 saja. Itu pun jika ada ayat-ayat panjang di surah-surah tertentu terkadang saya macet juga, salah satunya karena unsur U (umur),” ujarnya sambil tersenyum.

Di lapangan, geliat tahfiz memang menghadirkan dinamika tersendiri. Jakartamu.com menemukan sejumlah pimpinan persyarikatan dan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) mewajibkan hafal juz 30 bagi guru dan karyawan sebagai syarat pengangkatan pegawai tetap atau kenaikan pangkat. Para guru dan karyawan diminta menghafal secara mandiri, sementara program pendampingan, pelatihan tajwid, atau metode menghafal yang sistematis belum tersedia secara memadai.

Harapannya, ketika hafal, bacaan pun sesuai kaidah tajwid yang benar. Namun praktiknya, dukungan kelembagaan belum sebanding dengan target yang ditetapkan. Situasi ini seperti mewajibkan seseorang memiliki kemampuan bela diri tanpa menyediakan pelatih, tempat latihan, dan kurikulum yang terarah.

Pengalaman lain disampaikan Kepala SMP Muhammadiyah 31 Jakarta, Muhammad Hazir.Ia mendapati sejumlah sekolah dengan program tahfiz yang cukup berhasil secara kuantitas. Murid-muridnya ada yang hafal hingga tiga juz.

“Banyak ditemukan sekolah yang membuka program tahfiz, murid-muridnya cukup banyak yang hafal bahkan sampai tiga juz, namun mereka tidak bisa baca Qur’an, karena mereka menghafal dengan huruf Latin, bukan membaca dengan huruf Arab,” ujarnya di sela ajang Olympicad di Universitas Muhammadiyah Makassar, Sabtu (14/2/2026) lalu.

Hafalan memang capaian yang mudah diukur. Jumlah juz bisa dihitung, wisuda tahfiz bisa digelar, sertifikat bisa dibagikan. Akan tetapi, kemampuan membaca dengan benar, memahami makna, dan menjadikan nilai-nilainya sebagai pedoman hidup memerlukan proses yang lebih panjang dan kesungguhan yang berbeda. (*)

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This