JAKARTAMU.COM | Kabar duka kembali menyelimuti keluarga Palestina. Hatem Ismail Rayan, seorang tenaga medis asal Jalur Gaza yang berada dalam tahanan Israel, dilaporkan meninggal dunia pada Kamis (12/2/2026). Kepergian Hatem menambah panjang daftar tahanan Palestina yang mengembuskan napas terakhir di balik jeruji besi di tengah ketegangan yang belum juga mereda.
Informasi mengenai kematian Hatem dikonfirmasi oleh Otoritas Urusan Sipil Palestina kepada Komisi Urusan Tahanan dan Eks-Tahanan serta Perhimpunan Tahanan Palestina (PPS). Hatem, yang sehari-hari mengabdikan diri sebagai paramedis, ditahan di penjara Negev, sebuah fasilitas penahanan di wilayah selatan yang dikenal memiliki kondisi lingkungan yang keras.
Jejak penahanan Hatem bermula pada akhir tahun lalu. Ia ditangkap oleh pasukan Israel pada 27 Desember 2024 di Rumah Sakit Kamal Adwan, Gaza utara. Saat itu, Hatem tidak sedang bertugas sendirian; ia berada di sisi putranya, Muath, yang tengah menjalani perawatan akibat luka-luka. Namun, alih-alih mendapatkan perlindungan medis, ayah dan anak ini justru dibawa ke pusat penahanan.
”Ia adalah seorang petugas medis yang mendedikasikan hidupnya untuk menolong sesama di tengah kecamuk perang,” demikian bunyi pernyataan singkat dari organisasi pendamping tahanan di Ramallah.

Kematian Hatem meninggalkan luka mendalam dan tanya besar bagi pihak keluarga. Muath, sang putra, hingga kini dilaporkan masih berada dalam tahanan Israel, terpisah dari ayahnya yang kini telah tiada. Nasib Muath dan ribuan tahanan lainnya menjadi cermin buram dari krisis kemanusiaan yang terus berlangsung di wilayah pendudukan.
Berdasarkan data lembaga urusan tahanan, hingga Februari 2026, terdapat lebih dari 9.300 warga Palestina yang mendekam di berbagai penjara Israel. Banyak di antaranya menghadapi kondisi kesehatan yang memburuk akibat minimnya akses medis dan fasilitas yang tidak memadai. Penjara Negev, tempat Hatem menghabiskan hari-hari terakhirnya, kerap menjadi sorotan karena laporan mengenai perlakuan buruk dan kondisi sel yang terlampau sesak.
Kepergian Hatem Ismail Rayan bukan sekadar angka dalam statistik konflik. Ia adalah pengingat bagi dunia mengenai harga mahal yang harus dibayar oleh mereka yang berada di garis depan kemanusiaan di Jalur Gaza. Hingga berita ini diturunkan, belum ada penjelasan rinci dari otoritas penjara Israel mengenai penyebab pasti kematian sang paramedis.
Di tengah sunyinya sel penjara Negev, sebuah dedikasi telah usai, meninggalkan duka yang tak kunjung kering bagi rakyat Palestina.


