JAKARTAMU.COM | Khotbah Idulfitri 1447 H di Masjid At-Tanwir, Kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Menteng, Jakarta, mengupas makna fitri dan hubungannya dengan isu ketahanan pangan. Khatib Ustaz Dr. Izza Rohman, mengajak umat menjadikan Idulfitri sebagai momentum memperbaiki cara bersyukur, terutama terhadap ketersediaan makanan.“Gagal mensyukuri nikmat adalah awal dari kehilangannya,” kata dosen Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka tersebut , Jumat (20/3/2026).
Idulfitri, lanjut Izza, tidak cukup lagi hanya dimaknai sebagai perayaan kemenangan seusai Ramadan. Lebih dari itu, Idulfitri menjadi momentum untuk menguatkan kesadaran atas nikmat yang sering dianggap biasa, di antaranya pangan.
Dia pun merujuk sejumlah ayat Al-Qur’an dalam Surat Yasin yang menggambarkan karunia makanan, baik nabati (ayat 33-35) maupun hewani (ayat 71-73), yang diakhiri dengan pertanyaan reflektif: apakah manusia tidak bersyukur?

Izza pun menguraikan bahwa persoalan pangan yang tidak lagi sederhana. Telah ada peringatan lembaga internasional soal meningkatnya risiko krisis pangan global akibat konflik dan gangguan distribusi. Dalam situasi itu, kesadaran individu untuk bersyukur atas pangan menjadi bagian dari solusi yang lebih luas.

Bagaimana bentuk konkretnya? Hal itu dapat dimulai dari pengakuan bahwa makanan adalah karunia Tuhan. Pengakuan itu lalu diiringi dengan sikap yang baik, hingga menghindari pemborosan. Data global yang ia sampaikan menunjukkan lebih dari 30 persen makanan di dunia tidak termakan, dengan sekitar 1 miliar ton makanan terbuang setiap tahun.
“Bersyukur atas nikmat pangan berarti tidak membuangnya secara percuma,” ujar Sekretaris Majelis Tarjih dan Tajdid PWM DKI Jakarta periode 2015-2022 ini.
Izza juga menekankan pentingnya pengelolaan pangan dalam jangka panjang. Ia mengingatkan kisah Nabi Yusuf sebagai rujukan tentang bagaimana mengelola cadangan makanan untuk menghadapi masa krisis. Dalam konteks saat ini, kemampuan menjaga ketersediaan pangan dinilai berkaitan langsung dengan ketahanan ekonomi dan stabilitas sosial.
Selain itu, ia mengaitkan sikap bersyukur dengan tindakan berbagi. Zakat fitrah disebut sebagai instrumen konkret agar kelompok rentan tetap dapat mengakses makanan pada hari raya. Ia mengingatkan bahwa penghargaan terhadap pangan juga mencakup penghormatan kepada seluruh rantai produksi, mulai dari petani hingga penyaji makanan.
Pada akhir khotbahnya, Izza mengaitkan syukur dengan ketakwaan. Ia menyebut ciri orang bertakwa antara lain gemar berbagi, mampu menahan amarah, dan mudah memaafkan. Sikap-sikap tersebut, menurutnya, menjadi landasan agar amal ibadah selama Ramadan dapat diterima.
“Memaafkan meringankan hati, memudahkan hidup, dan memperbaiki hubungan,” kata dia.


