JAKARTAMU.COM | Pemerintah Iran menyebut kerugian awal akibat serangan Amerika Serikat dan Israel mencapai USD270 miliar. Juru bicara pemerintah Fatemeh Mohajerani mengatakan penilaian kerugian dilakukan bertahap dan belum final.
“Kerugian biasanya dinilai melalui beberapa tahapan,” ujarnya kepada kantor berita RIA Novosti, Selasa (14/4/2026).
Ia menambahkan isu ganti rugi menjadi bagian dari agenda diplomatik yang sedang berjalan. “Salah satu isu yang diupayakan oleh tim negosiasi kami, dan juga dibahas dalam pembicaraan di Islamabad, adalah masalah ganti rugi perang,” kata Fatemeh.
Presiden Palang Merah Iran Pir-Hossein Koulivand menyebut lebih dari 125.000 bangunan sipil hancur atau rusak berat. Dari jumlah itu, sekitar 100.000 merupakan properti hunian dan 23.500 fasilitas komersial. Organisasi Kedokteran Forensik Iran mencatat sedikitnya 3.753 orang tewas, termasuk perempuan dan anak-anak.

Baca juga: Mengapa Trump Ngotot Blokade Selat Hormuz yang Ingin Dibukanya?
Selain Amerika Serikat dan Israel, Iran memperluas tuntutan ganti rugi ke lima negara Arab: Bahrain, Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Yordania. Dalam surat kepada Sekretaris Jenderal PBB António Guterres dan Presiden Dewan Keamanan Jamal Fares Alrowaiei, Duta Besar Iran Amir-Saeid Iravani menolak penggunaan Pasal 51 Piagam PBB untuk membenarkan tindakan lima negara tersebut untuk memfasilitasi serangan. “Dalam keadaan saat ini, mereka tidak dapat secara sah menggunakan hak membela diri terhadap Iran,” tulisnya.
Teheran menegaskan posisinya sebagai “korban agresi” dan menyatakan tindakan militernya merupakan bentuk pembelaan diri. Iran juga menuduh beberapa negara tersebut terlibat langsung dalam serangan terhadap sasaran sipil di wilayahnya.
Dalam surat itu, misi Iran meminta kelima negara segera menghentikan tindakan yang dinilai melanggar hukum internasional, termasuk memberikan akses wilayah bagi operasi militer pihak lain. Iran juga menuntut kompensasi penuh atas kerugian material dan nonmaterial yang timbul dari konflik tersebut.
Baca juga: AS Kirim Dua Kapal Perusak ke Selat Hormuz saat Perundingan di Islamabad
Perang dimulai pada 28 Februari ketika AS dan Israel melakukan serangan udara yang menargetkan pejabat dan komandan senior. Sebagai respons, Teheran meluncurkan Operasi True Promise 4 yang mencakup serangan rudal dan drone harian ke target di wilayah Israel serta aset militer AS di kawasan. Dalam perang selama 40 hari itu, Iran menutup Selat Hormuz bagi kapal tanker minyak dan gas yang terafiliasi dengan pihak yang dianggap musuh.
Iran dan Amerika Serikat melakukan negosiasi yang dimediasi Pakistan di Islamabad pada Sabtu dan Minggu lalu. Pembicaraan itu menjadi lanjutan dari upaya merumuskan gencatan senjata permanen setelah sebelumnya Washington menerima proposal 10 poin dari Teheran pada 8 April. Namun, perundingan selama lebih dari 20 jam pada 12 April berakhir tanpa kesepakatan akibat perbedaan tuntutan, sementara gencatan senjata sementara masih berlaku.
Sumber: PressTV dan Al Jazeera


