Jejak Pionir Transmigran di Antara Indramayu-Subang

Must Read

SUYAMTO tak pernah melupakan peristiwa nahas setengah abad silam. Ketika itu dia masih kelas dua SD. Bersama ayah, ibu dan puluhan orang lain, dia berada di dalam bus yang melaju dari Boyolali Jawa Tengah menuju Lampung dan Lubuk Linggau Sumatera Selatan pada 11 Maret 1974. 

Mereka adalah rombongan transmigran. Tidak ada firasat apa pun sebelumnya. Dalam benak para transmigran hanya ada harapan untuk mengubah hidup menjadi lebih baik di tempat baru meski, jauh dari kampung halaman. Sebisa mungkin mereka tiba dan memulai hidup baru, menempati rumah dan mengolah lahan dua hektare yang disiapkan pemerintah. 

Namun Tuhan punya skenario lain. Sesampainya di Desa Sukra, Kecamatan Sukra, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, tepatnya di jembatan yang menghubungkan Indramayu dan Kabupaten Subang, bus bermuatan 70 orang itu adu banteng dengan bus yang dari arah berlawanan. “Braaak…”, benturan kedua bus menimbulkan suara  yang sangat keras.

Tidak hanya ringsek, badan bus terbakar memanggang para penumpang. Dari 70 orang penumpang, 67 orang meninggal. Hanya tiga bocah yang selamat. Suyamto salah satunya. 

Milad 117 H Muhammadiyah

“Kobaran api itulah yang merenggut nyawa bapak, ibu, saudara, dan calon transmigrasi lain,” ujar Suyamto yang ditemani Jaelani, dalam peringatan  Hari Bhakti Transmigrasi (HBT), Rabu (10/12/2025) lalu.

Peristiwa itu sangat membekas. Seluruh korban dimakamkan tak jauh dari jembatan lokasi kejadian. Tempat itu kini dinamakan Makam Pionir Transmigrasi. 

“Mari kita doakan keluarga yang ditinggalkan mendapat kesabaran dan ketabahan.  Kami di sini hadir untuk mengenang kembali para pionir transmigrasi,” ujar Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi dalam amanatnya.

Viva Yoga mengingatkan, kepergian para transmigran tersebut membawa niat mulia untuk mengubah hidupnya menjadi lebih sejahtera. “Peran transmigran di masa Orde Baru disebut sebagai pahlawan pembangunan. Kalau sekarang kita sebut patriot bangsa”, ujarnya.  

Menurut Viva Yoga, disebut patriot bangsa sebab kehadiran transmigran di kawasan terdepan dan terluar wilayah Indonesia itu juga sekaligus menjaga NKRI. “Mereka juga melakukan akulturasi budaya dan perkawinan sehingga menciptakan persatuan dan kesatuan bangsa,” ujarnya.

Sejak pertama kali dilaksanakan tahun 1950, transmigrasi telah banyak melahirkan generasi sukses. “Generasi selanjutnya hidupnya sudah semakin mapan, sejahtera. Mereka mengisi berbagai sendi kehidupan dari menjadi kepala daerah, anggota DPRD, kepala desa, akademisi di tingkat kabupaten maupun provinsi. Di pusat juga ada yang menjadi anggota DPR dan jabatan lainnya,” tutur Viva.

Di Makam Pionir Transmigrasi, Viva Yoga selain melakukan tabur bunga di pusara-pusara juga memberi santunan kepada para korban yang selamat, yakni Suyamto dan Jaelani. Santunan juga diberikan kepada Suyanto sebagai penjaga makam.

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This