Jejak Transformasi Budaya Muhammadiyah di Kampung Santri Kleco 

Must Read

AKHIR Sya’ban 1447 H saya habiskan di Dusun Kleco. Sebuah dusun di Desa Segaran, Kecamatan Delanggu, Klaten, Jawa Tengah.yang oleh warga sekitar disebut kampung santri. Itulah kampung Umi Zayanah, istri saya. Seharian saya berada di sana, menyaksikan bagaimana tradisi lama bertemu dengan kesadaran baru yang tumbuh perlahan.

Istri dan saya sama-sama dibesarkan oleh sekolah Muhammadiyah. Saya menempuh pendidikan di SMP dan SMA Muhammadiyah. Istri sejak taman kanak-kanak hingga Sekolah Perawat dan Kebidanan Aisyiyah/PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Ia pernah bercerita, saat belajar Kemuhammadiyahan di Yogyakarta, gurunya adalah Haedar Nashir, yang kini menjabat Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Saya sendiri ditempa para guru dan rutin mengikuti pengajian malam Selasa di Gedung Sierad, wakaf dari ayahanda PK Ir. Sanusi, mantan Menteri Perindustrian Ringan pada masa Presiden Soekarno dan sesepuh Himpunan Mahasiswa Islam. Tahun 1972 saya sempat nyantri di Pondok Modern Muhammadiyah Buntalan, Klaten.

Empat puluh tahun saya tidak mengikuti silaturahmi keluarga besar istri di Dusun Kleco, Desa Segaran, Kecamatan Delanggu, Klaten, Jawa Tengah. Namun hampir setiap Lebaran atau bakda Idulfitri, kami berkeliling ke rumah para sesepuh. Nama-nama mereka lekat dengan tradisi santri, sebutlah Abdul Wahab, Abu Naim, Abubakar, Imanrejo, dan lainnya. Sementara dari pihak saya, nama-nama Jawa lebih dominan: Wongsomenggolo, Wongsosumarto, Djojohartoyo, Sugiran, Sunarni. Kami tumbuh dalam kejawaan yang Islami.

Milad 117 H Muhammadiyah

Sejarah dan Tradisi

Dusun Kleco masuk kawasan Koripan bersama Logantung, Morisan, dan beberapa dusun lain. Di Koripan itulah Pangeran Diponegoro pernah diselamatkan dan dirawat setelah mengalami luka serius dalam pertempuran di Gawok, Sukoharjo. Saat itu ia dan pasukannya bergerak ke wilayah Pajang dengan dukungan Pakubuwono VI melawan Jenderal De Kock yang didukung Mangkunegaran. Jejak sejarah itu masih menjadi cerita turun-temurun.

Koripan juga dikenal sebagai kawasan pande besi. Industri senjata dan peralatan pertanian dari besi tumbuh sejak lama dan bertahan hingga kini. Denting besi dan api tempa menjadi bagian dari identitas wilayah ini.

Sejak masa Mataram Islam, banyak dusun di Jawa mengenal corak Islam sinkretis. Wayang dan ritual sesaji hidup berdampingan dengan ajaran agama. Tradisi nyadran atau sadranan menjadi bagian dari siklus tahunan. Di sejumlah desa, pengajian biasanya tidak digelar bersamaan dengan sadranan.

Namun di Dusun Kleco, suasananya berbeda. Tradisi mulai berubah. Warga tetap berziarah kubur, tetapi tanpa kenduri dan tanpa sesaji. Sebelum salat Zuhur berjemaah, diadakan pengajian tentang pentingnya menjaga silaturahmi dan mempersiapkan diri menyambut Ramadan selepas Sya’ban. Tidak ada lagi makan bersama di area pemakaman.

Di dusun tempat istri saya dibesarkan, dan di beberapa dusun santri lainnya, kegiatan membersihkan makam leluhur tetap ada. Akan tetapi, kenduri yang menyertakan doa atas nama “sing mbaurekso desa” sudah ditinggalkan. Doa diarahkan sepenuhnya kepada Allah, ditujukan bagi seluruh kaum Muslimin dan secara khusus bagi orang tua serta keluarga yang telah wafat.

Pendekatan Muhammadiyah terasa di sana. Ziarah dilakukan dengan tenang, tanpa ratapan dan tanpa permintaan kepada selain-Nya. Seusai doa, yang sering muncul justru cerita-cerita tentang kebaikan dan kemuliaan para almarhum dan almarhumah. Nama mereka disebut dengan hormat, dikenang melalui amalnya, lalu kami pulang dengan perasaan ringan, bersiap memasuki Ramadan.

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This