Kekacauan di Kartasura: Jejak Tarekat dan Perebutan Kuasa di Istana Jawa Abad ke-18

Must Read
Miftah H. Yusufpati
Miftah H. Yusufpati
Sebelumnya sebagai Redaktur Pelaksana SINDOWeekly (2010-2019). Mulai meniti karir di dunia jurnalistik sejak 1987 di Harian Ekonomi Neraca (1987-1998). Pernah menjabat sebagai Pemimpin Redaksi Majalah DewanRakyat (2004), Wakil Pemimpin Harian ProAksi (2005), Pemimpin Redaksi LiraNews (2018-2024). Kini selain di Jakartamu.com sebagai Pemimpin Umum Forum News Network, fnn.co.Id. dan Wakil Pemimpin Redaksi Majalah FORUM KEADILAN.

JAKARTAMU.COM | Di istana Kartasura awal abad ke-18, bayangan Sufisme berkelindan dengan politik istana. Antara doa dan dendam, tarekat dan takhta, para bangsawan Mataram berebut legitimasi spiritual dalam pusaran kekuasaan yang kian rapuh.

Belanda, yang mula-mula hanya berniat memungut pajak dan menjamin keamanan dagang, pelan-pelan menyeret Mataram dalam pusaran kontrol politik. Sejak membantu menumpas pemberontakan di pesisir utara, VOC menuntut imbalan wilayah dan hak pajak atas nama keturunan Sultan Agung. Tapi, di balik laporan-laporan mereka yang kering dan teknokratis, berlangsung perang sunyi antarulama dan bangsawan yang merebut makna Islam di tanah Jawa.

Menurut sejarawan Michael Laffan dalam The Makings of Indonesian Islam (Princeton University Press, 2011), kekacauan itu berpangkal pada ketegangan lama antara Islam lokal—yang menyerap unsur Hindu-Buddha dan Jawa klasik—dengan Sufisme yang datang dari Arabia.

Salah satu yang pertama terseret arus itu adalah Haji Ahmad Mutamakin dari Desa Cabolek, dekat Semarang. Sekitar 1731, di bawah kekuasaan Pakubuwana II, ia diadili karena dianggap menyebarkan “kebenaran mistis” kepada orang awam. Mutamakin mengaku belajar dari Syekh Zayn al-Yamani—kemungkinan keturunan dari jaringan guru besar al-Sinkili dan Syekh Yusuf al-Maqassari. Namun, silsilah “asing” itulah yang justru membuatnya dicurigai.

Milad 117 H Muhammadiyah

Dalam Serat Cabolek, Ketib Anom dari Kudus mencemooh Mutamakin yang dianggap terlalu Arab, terlalu tekstual. Baginya, jalan menuju hakikat cukup ditempuh lewat naskah-naskah Kawi, seperti Ramayana. Konflik ini, tulis Laffan, memperlihatkan gesekan antara dua dunia: Sufisme lokal yang sinkretis dan Sufisme global berbahasa Arab-Melayu—warisan Abd al-Ra’uf, Syekh Yusuf, dan Abd al-Muhyi.

Gelombang spiritual itu terus menjalar ke jantung istana. Sekitar 1729, muncul kelompok di sekitar Pakubuwana II yang dipimpin Pangeran Urawan—putra seorang buangan kerajaan yang pernah dikirim ke Batavia. Kelompok ini, menurut Laffan, diwarnai pengaruh tarekat-tarekat seperti Qadiriyyah dan Syattariyyah. Salah satu gurunya, Sayyid Alwi dari Arab, tiba di Jawa pada 1737.

Belanda, yang gelisah melihat tumbuhnya jaringan spiritual-politik itu, menekan istana. Atas desakan mereka, Urawan diasingkan ke Ceylon, seperti dulu Syekh Yusuf dibuang ke sana. Pengasingan ini memicu keresahan di kalangan santri dan bangsawan saleh.

Namun istana tak jera. Faksi lain yang dipimpin nenek Pakubuwana II berusaha melawan pengaruh Arab-Melayu dengan cara Jawa: menulis ulang kisah-kisah sakral. Kisah Nabi Yusuf, Isra’-Mi‘raj Muhammad, hingga Hikayat Iskandar Zulkarnain dijahit ulang untuk menguatkan narasi Islam-Jawa yang sakral dan mandiri.

Puncak pergolakan itu datang saat meletus Perang Tionghoa tahun 1740. Faksi Syattariyyah menulis silsilah baru para wali, menghubungkan guru-guru Jawa dengan sufi besar Damaskus, Wali Raslan, dan ulama Mesir, Zakariyya al-Ansari—yang bahkan digambarkan bersahabat dengan Sunan Gunung Jati di Mekah. Gema global itu menegaskan: Islam Jawa bukan pinggiran, tapi bagian dari arus besar dunia Islam.

Namun kemenangan tak berpihak pada mereka. Setelah kekalahan di Kartasura, Pakubuwana II menyerah pada Belanda. Ia mengasingkan para guru sufinya, meninggalkan kesalehan neneknya, dan menukar spiritualitas dengan stabilitas kekuasaan.

Kekacauan di Kartasura bukan sekadar pemberontakan istana, tapi titik balik dalam sejarah Islam Jawa—ketika tarekat, teks, dan politik bertarung menentukan arah ruh Nusantara. (*)

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This