Keselamatan Transportasi Bukan Nasib tetapi Sistem

Must Read

Oleh Dzulfikar Arifuddin S.T., M.T. | Wakil Sekretaris Jenderal PP IKA ITS 2024 – 2028 | Sekretaris Dewan Pakar IKA ITS PW Jakarta Raya 2023-2027 | Co-Founder Centre for Energy and Innovation Technology Studies (CENITS)

RENTETAN kecelakaan transportasi yang kerap terjadi di Indonesia—terutama pada momentum mobilitas tinggi seperti arus mudik—lebih sering dipersepsikan publik sebagai “takdir”. Umumnya narasi yang muncul hampir selalu sama, mulai kelalaian pengemudi, kondisi jalan, atau faktor keberuntungan semata. Namun kecelakaan dalam perspektif keselamatan modern adalah indikator kegagalan sistem.

Setiap kecelakaan, setiap kendaraan terguling, dan setiap korban yang jatuh di jalan raya, sesungguhnya menyimpan data berharga tentang bagaimana sistem transportasi kita bekerja—atau justru gagal bekerja. Negara-negara dengan tingkat keselamatan transportasi tinggi memahami prinsip ini dengan sangat jelas, bahwa setiap kecelakaan harus menjadi pelajaran sistemik. Data dikumpulkan, dianalisis secara ilmiah, lalu diterjemahkan menjadi standar keselamatan baru.

Indonesia sebenarnya memiliki fondasi kelembagaan yang cukup kuat untuk melakukan hal tersebut. Polri melalui Korps Lalu Lintas Polri, telah memanfaatkan teknologi Traffic Accident Analysis (TAA) untuk merekonstruksi kecelakaan secara ilmiah. Teknologi ini mampu membaca jejak pengereman, menghitung kecepatan kendaraan sebelum benturan, hingga merekonstruksi dinamika tabrakan dalam simulasi tiga dimensi.

Milad 117 H Muhammadiyah

Baca juga: Mengurai Akar Masalah “Mesin Brebet” di Jawa Timur

Di sisi lain, investigasi independen yang dilakukan oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) telah lama menjadi rujukan penting dalam membedah akar penyebab kecelakaan transportasi di Indonesia. Laporan-laporan mereka sering kali mengungkap persoalan yang jauh lebih kompleks daripada sekadar kesalahan individu: mulai dari kelelahan pengemudi, lemahnya pengawasan operator, kegagalan sistem kendaraan, hingga desain infrastruktur yang tidak ramah keselamatan.

Namun hasil investigasi keselamatan tersebut hanya menjadi dokumen laporan teknis, belum sepenuhnya menjadi literasi keselamatan publik. Padahal di banyak negara maju, laporan kecelakaan justru menjadi instrumen pendidikan masyarakat. Data kecelakaan dibuka secara transparan, dianalisis secara kolektif, lalu diterjemahkan menjadi panduan keselamatan bagi operator transportasi dan pengguna jalan. Dengan kata lain, kecelakaan tidak disembunyikan tetapi dijadikan ruang belajar bersama.

Dari Investigasi ke Literasi Publik

Jika pendekatan yang sama diterapkan secara konsisten di Indonesia, semestinya hasil rekonstruksi kecelakaan tidak berfungsi lebih dari alat penegakan hukum semata. Ia juga dapat menjadi media edukasi yang sangat kuat bagi masyarakat. Bayangkan jika rekonstruksi tiga dimensi kecelakaan yang dilakukan oleh Korlantas dapat dipublikasikan secara edukatif kepada publik. Visualisasi tentang bagaimana kendaraan kehilangan kendali pada kecepatan tinggi, bagaimana jarak aman yang diabaikan dapat memicu tabrakan beruntun, atau bagaimana satu kesalahan kecil di jalan tol dapat berkembang menjadi tragedi besar.

Pesan keselamatan yang divisualisasikan secara nyata dan dapat di akses setiap saat di kanal khusus,  memiliki dampak psikologis jauh lebih kuat dibanding sekadar imbauan normatif. Keselamatan bukan lagi sekadar slogan di papan rambu, tetapi pemahaman konkret tentang risiko perjalanan.

Langkah serupa juga dapat diperkuat melalui rekomendasi yang dihasilkan oleh KNKT. Selama ini laporan investigasi mereka sangat komprehensif, tetapi sering kali hanya dibaca oleh kalangan terbatas. Ke depan, Indonesia perlu mengembangkan semacam Safety Bulletin Transportasi Nasional yang secara berkala merangkum pelajaran keselamatan dari setiap kecelakaan besar yang juga dapat setiap saat di akses secara daring dan di tempel di tempat-tempat umum baik di terminal, stasiun, kendaraan umum itu sendiri dan halte maupun pool bus dan sebagainya.

Buletin semacam ini akan memberikan dua manfaat sekaligus. Bagi operator transportasi, ia menjadi standar pembelajaran industri. Bagi masyarakat, ia menjadi panduan untuk memahami risiko transportasi dan memilih layanan yang lebih aman.

Baca juga: Strategi Kampus Indonesia Menembus Sekat Global

Teknologi sebagai Standar Keselamatan

Setiap kecelakaan harus diikuti langkah Problem Identification and Corrective Action (PICA)yang konkret. Sejumlah teknologi keselamatan sebenarnya sudah tersedia dan terbukti efektif menurunkan risiko kecelakaan transportasi.

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This