MINGGU pagi, 2 November 2025, udara Kota Bandar Lampung masih lembap selepas subuh. Di belakang Bambu Kuning Trade Center, aroma kaldu ayam menyeruak dari sebuah gerobak sederhana milik Agus Salim. Lelaki asal Lamongan itu sudah bersiap sejak pukul enam, meracik kuah kuning hangat, menata suwiran ayam, dan menyiapkan taburan koya. Lapaknya kecil, tapi pengunjung datang silih berganti.
Soto Lamongan racikan Agus Salim punya ciri khas sendiri. Jika di banyak kota soto disajikan dengan nasi, di sini pembeli bisa memilih lontong. Pilihan itu ternyata cukup populer, meski biasanya lontong lebih lekat dengan gulai atau kuah santan. Di meja kayu kecilnya, kerupuk diganti keripik tempe yang renyah. Satu lagi yang menarik, hampir semua pelanggan berbahasa Jawa—dari cara memesan hingga bercakap ringan dengan penjual. Di tengah kota multietnis seperti Bandar Lampung, lapak kecil ini menjadi ruang pertemuan yang akrab, tempat orang saling mengenal lewat makanan.
Agus tidak bekerja sendirian. Ia dibantu istrinya dan seorang karyawan laki-laki. Mereka membuka dua shift. Pagi sebelum toko-toko sekitar buka, dan malam setelah kawasan pertokoan kembali lengang. Di sela kesibukan melayani pembeli, Agus sesekali menyapa pelanggan lama yang datang lagi minggu berikutnya. “Soto itu bukan cuma soal rasa,” ujarnya pelan, “tapi juga soal kebersamaan.”
Makanan memang sering menjadi pengikat sosial yang paling kuat. Dalam banyak budaya di Indonesia, urusan penting kerap dimulai atau diakhiri dengan makan bersama. Perselisihan kecil di kampung bisa cair setelah sepiring nasi dan semangkuk kuah hangat disajikan. Di meja makan, batas sosial melebur; orang bicara lebih tenang dan jujur.

Soto adalah wujud konkret keragaman masyarakat yang menumbuhkannya. Menu masakan ini diperkirakan mulai populer pada abad ke-19 sebagai makanan siap saji di kalangan pekerja dan pedagang. Saat itu, kelas atas cenderung memilih hidangan yang dianggap lebih bersih dan berstatus tinggi. Soto sebaliknya tumbuh di jalan-jalan kota, menyesuaikan bahan dan cita rasa sesuai daerah: ada soto Betawi, soto Kudus, soto Banjar, hingga soto Lamongan.
Keberagaman itu menunjukkan watak kosmopolitan Indonesia yang sudah terbentuk sejak lama. Dalam buku resep klasik Mustika Rasa (1967), soto baru tercatat secara resmi, menandakan bagaimana makanan rakyat akhirnya memperoleh tempat dalam sejarah kuliner nasional.
Soto Lamongan belakangan bahkan dikenal lintas negara. Cita rasanya yang ringan, berpadu gurih koya, membuatnya sering disebut sebagai salah satu sup terbaik dunia. Di balik pengakuan itu, ada ribuan penjual seperti Agus Salim yang menjaga tradisi rasa sambil menegakkan solidaritas sosial lewat semangkuk makanan hangat.
Di masa lalu, soto ayam juga punya kisah sendiri di lingkungan Muhammadiyah. Kedai soto di kompleks Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Menteng Raya, Jakarta, konon menjadi tempat singgah tamu-tamu organisasi. Kini, setelah kawasan itu mengalami perluasan untuk Masjid Ar Tanwir, kedai legendaris tersebut pindah ke Jalan Kali Pasir, Cikini.
Dari Menteng hingga Bandar Lampung, dari meja kayu hingga gerobak di tepi jalan, soto membuktikan diri sebagai jembatan sosial. Namun soto bukan satu-satunya. Ada banyak menu makanan yang juga menjadi perekat solidaritas. Ada pecel Madiun, bakso Malang, kopi Aceh, bubur Manado, dan masih banyak lagi. (*)


