Kisah Puasa Ramadan Perdana Franck Ribery saat Kompetisi Elite Eropa

Bintang sepak bola Prancis Franck Ribery menyebut ibadah puasa bukan beban fisik melainkan sumber energi jiwa. Pengalaman pertamanya menjadi bukti bahwa keyakinan mampu melampaui batas stamina atlet.

Must Read
Miftah H. Yusufpati
Miftah H. Yusufpati
Sebelumnya sebagai Redaktur Pelaksana SINDOWeekly (2010-2019). Mulai meniti karir di dunia jurnalistik sejak 1987 di Harian Ekonomi Neraca (1987-1998). Pernah menjabat sebagai Pemimpin Redaksi Majalah DewanRakyat (2004), Wakil Pemimpin Harian ProAksi (2005), Pemimpin Redaksi LiraNews (2018-2024). Kini selain di Jakartamu.com sebagai Pemimpin Umum Forum News Network, fnn.co.Id. dan Wakil Pemimpin Redaksi Majalah FORUM KEADILAN.

JAKARTAMU.COM | Bagi Franck Ribery, lapangan hijau bukan sekadar tempat mengejar bola, melainkan panggung pembuktian atas prinsip hidup yang ia pilih. Mantan pemain tim nasional Prancis dan legenda Bayern Munchen ini memutuskan memeluk Islam pada tahun 2002, sebuah langkah besar yang kemudian mengubah cara pandangnya terhadap profesi sebagai atlet elit. Tantangan terbesar muncul saat ia harus menghadapi Ramadhan perdananya di tengah kompetisi Eropa yang menuntut kekuatan fisik tanpa batas.

Ribery mengenang pengalaman puasa pertamanya sebagai momen penemuan jati diri. Di lingkungan sepak bola Eropa yang sangat mengedepankan sains olahraga dan nutrisi ketat, menjalankan puasa selama lebih dari lima belas jam sering kali dianggap sebagai risiko medis. Namun, Ribery justru merasakan hal yang berbeda. Ia mengungkapkan bahwa menahan lapar dan dahaga justru memberinya kejernihan pikiran dan ketenangan yang tidak ia dapatkan sebelumnya.

Pengalaman perdana tersebut dijalaninya saat ia masih membangun karier di Prancis sebelum akhirnya bersinar di Jerman. Ribery menceritakan bahwa secara fisik, latihan di bawah terik matahari memang berat, tetapi secara mental, ia merasa lebih kuat. Ia tidak melihat Ramadhan sebagai penghalang, melainkan sebagai sumber kekuatan spiritual yang mendorongnya untuk memberikan lebih banyak energi di lapangan. Baginya, rasa haus dan lapar adalah pengingat akan disiplin dan rasa syukur.

Kedisiplinan Ribery dalam menjalankan ibadah ini sempat menarik perhatian staf medis klub. Ia harus berkoordinasi erat untuk mengatur pola makan saat sahur dan berbuka agar massa ototnya tidak menyusut. Rahasia sukses puasa perdananya terletak pada keyakinan bahwa tubuh manusia mampu beradaptasi jika didorong oleh semangat spiritual yang kuat. Keberhasilannya melewati bulan suci pertama tanpa penurunan performa menjadi jawaban bagi banyak pihak yang meragukan kapasitas atlet muslim.

Milad 117 H Muhammadiyah

Sumber narasi perjalanan spiritual dan profesional Franck Ribery ini disadur dari wawancara mendalam yang pernah dimuat dalam majalah olahraga Prancis L Equipe dan dokumentasi profil atlet muslim yang diterbitkan oleh Al Jazeera. Selain itu, kesaksiannya mengenai kekuatan Islam dalam hidupnya juga sering ia sampaikan dalam berbagai konferensi pers resmi di Bayern Munchen serta dimuat dalam artikel biografi singkat di situs resmi Bundesliga.

Hingga masa pensiunnya, Ribery tetap dikenal sebagai sosok yang sangat religius. Pengalaman puasa pertama di awal kariernya tersebut menjadi fondasi utama yang membentuk karakternya sebagai pemain yang tangguh di lapangan dan teguh dalam pendirian. Ia berhasil membuktikan bahwa di balik kesuksesan seorang pesepak bola dunia, ada kedamaian batin yang menjadi motor penggerak paling utama. (*)

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This