Maaf Dik … Saya Harus Kembali ke Jakarta Dulu

Must Read

TIGA puluh jam saya lewati di Delanggu, Solo. Mengembara di antara rumah masa kanak-kanak dan Rumah Sakit Dr. Muwardi di kawasan Jebres.

Hanya rute itu yang saya lalui dengan niat tunggal: menjenguk adik kandung yang terbaring karena serangan stroke. Dia adalah Sri Agustini (63), bungsu dari lima bersaudara. Stroke menghampirinya pada Senin siang, 6 April 2026. Namun saya baru bisa meninggalkan Jakarta pada Rabu petang, 8 April 2026, karena harus menghadiri beberapa acara sekaligus membetulkan talang air dapur yang bocor.

Sekitar empat jam saya di rumah sakit itu, melihat langsung kondisi adik saya, pensiunan pegawai negeri Kementerian Kesehatan di Maluku Utara. Dokter ahli saraf dengan sejumlah sub-spesialis sedang memeriksanya.

Pemeriksaan CT scan, kardiologi, dan lainnya telah dijalani. Penanganan pada masa golden period (enam jam setelah serangan stroke) tidak terpenuhi karena lamanya proses evakuasi. Dia sempat dibawa dari rumah ke rumah sakit swasta di Delanggu yang kemampuannya terbatas menangani stroke, termasuk keterbatasan ruang HCU di RS Muwardi.

Milad 117 H Muhammadiyah

Adik saya tinggal bersama satu cucu, sementara anak dan suaminya berada di Sofifi, Maluku Utara. Kondisi ini turut menyebabkan penanganan dalam golden period (enam jam pasca serangan stroke di otak kanan) terlewati.

Saat serangan terjadi, kebetulan sedang berlangsung videocall antara cucunya, Aira, dan ibunya di Sofifi. Dari situ informasi diketahui dan bantuan digerakkan. Aira berteriak meminta tolong dari jendela rumah, mengikuti arahan ibunya. Dalam waktu kurang dari 30 menit, tetangga—Lik Parjo dan Pakde Kirno—datang dan mendobrak pintu. Menyusul kemudian Dik Anto dan Moh menyiapkan mobil bak untuk membawa ke RSU PKU Muhammadiyah Delanggu yang berjarak kurang dari satu kilometer.

Anaknya di Sofifi kemudian menghubungi bude-nya, kakak Sri Agustini, Sri Wahyuni (67), pensiunan guru SMAN 2 Sragen. Ia segera berangkat ke Solo dan mengurus rujukan dari RS PKU Muhammadiyah Delanggu. Selama beberapa jam pada Selasa, 7 April, pasien didampingi istri Lik Parjo hingga adik dari Sragen tiba.

Keesokan harinya, sekitar pukul 13.00, kamar baru tersedia dengan bantuan kenalan lama. Bude Asih kemudian bergabung dengan Sri Wahyuni mengevakuasi pasien menggunakan ambulans PKU ke RSU Dr. Muwardi Solo pada Rabu pagi, 8 April.

Betapa repotnya tiga perempuan hebat: Antika, Istiqomah, Sri Wahyuni, dan Bude Asih, merespons teriakan Aira yang masih bersekolah di TK Permata Hati Muhammadiyah Delanggu.

Kemarin petang, Kamis malam Jumat, saya menjabat tangan kanannya yang masih normal—sementara tubuh sebelah kiri mengalami kelumpuhan—sambil membisikkan di telinga kanannya: “Tien, ini Mas Joko dari Jakarta. Sabar, saya doakan Allah menyembuhkanmu.” Ia hanya menganggukkan kepala dengan sorot mata lemah. Saya duduk sejenak membacakan doa kesembuhan, di samping suaminya yang telah dua hari tiba dari Maluku Utara dan berjaga pada malam hari. Siang hari, ia ditemani Antika (37), anak perempuannya.

Sehat dan sakit, gembira dan duka, selalu menghampiri siapa saja. Kini adik bungsu saya sedang melewati masa itu. Saat ia berusia dua tahun dan saya sembilan tahun, kami telah ditinggal ibu kami.

Hingga kini kami telah beranak cucu dan menjalani kehidupan di tempat berbeda. Namun hati kami tetap menyatu, saling berkomunikasi dan sesekali bertemu di Delanggu, desa sekitar 20 kilometer dari Solo.

Pada Idulfitri 1447 H/2026 yang baru lewat, Sri Agustini dan cucunya, Aira, sempat salat Id di Kampus Saintek Muhammadiyah Kelapa Dua Wetan, Jakarta Timur. Ia juga mengasuh cucunya ke Taman Mini, sebelum saya antar pulang ke Stasiun untuk kembali ke Delanggu.

Kini ia terbaring di Rumah Sakit Dr. Muwardi, kota tempat ia menyelesaikan D3 Farmasi, lalu melanjutkan S1 dan S2 di Universitas Hasanuddin dengan biaya dari pemerintah Maluku dan Maluku Utara. Ia dikenal gigih dan pekerja keras.

Doa saya, doa kami sebagai kakak, serta seluruh anak cucu, menyertai kesembuhanmu.

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This