Menghidupkan Kembali Tadarus Sebelum Berkegiatan

Must Read

RAMADAN selalu menghadirkan suasana yang khas bagi umat Islam. Pada bulan inilah Al-Qur’an terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Tradisi membaca dan mengkaji Al-Qur’an—tadarus—menjadi bagian dari denyut ibadah yang diwariskan sejak masa awal Islam.

Dalam Lathaif Al-Ma’arif, Ibnu Rajab –rahmatullah ‘alaih– menjelaskan, “Kebiasaan orang-orang terdahulu di bulan Ramadhan ialah membaca Al-Quran dalam shalat dan selainnya.”

Keterangan itu mengingatkan bahwa Ramadan memiliki hubungan yang sangat kuat dengan Al-Qur’an. Pada masa Nabi Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam–, malaikat Jibril –‘alaihissalam– selalu datang pada setiap Ramadan untuk mengajarkan dan menelaah Al-Qur’an bersama beliau. Pengkhususan waktu ini menunjukkan bahwa Ramadan dipandang sebagai saat yang sangat tepat untuk memperbanyak tadarus.

Baca juga: Tadarus Ramadan FKIP Uhamka Perkuat Nilai dan Spirit Profetik

Milad 117 H Muhammadiyah

Riwayat dari ‘Abdullah bin ‘Abbas –radhiyallahu ‘anhuma– yang dicatat Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim menggambarkan suasana tersebut. Ia menuturkan, “Adalah Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– merupakan sosok yang paling dermawan. Terlebih lagi di bulan Ramadhan ketika Jibril menjumpainya untuk mengajarinya Al-Quran. Jibril menemui beliau di setiap malam Ramadhan untuk mengajarinya Al-Quran. Maka ketika Jibril menjumpainya, beliau adalah orang yang paling dermawan, lebih dari angin yang bertiup.”

Tradisi membaca Al-Qur’an sebagai ibadah telah berlangsung sepanjang sejarah umat Islam. Kedudukannya tidak terbatas pada bacaan dalam shalat. Membaca Al-Qur’an itu sendiri sudah dipandang sebagai ibadah. Keyakinan ini bertumpu pada sejumlah dalil, antara lain QS. Al-Isra’: 106, QS. Al-Muzzammil: 20, serta hadis yang menganjurkan, “Percantiklah Al-Qur’an dengan suaramu.”

Jejak tradisi tersebut pernah hidup kuat dalam berbagai kegiatan organisasi keagamaan. Dalam lingkungan Muhammadiyah, tadarus Al-Qur’an sebelum memulai aktivitas pernah menjadi kebiasaan yang dijaga. Rapat persyarikatan kerap diawali dengan membaca Al-Qur’an secara bergiliran oleh anggota pleno, kemudian dilanjutkan dengan tausiyah singkat sekitar lima menit. Pola ini menghadirkan suasana batin yang tenang sebelum memasuki pembahasan agenda organisasi.

Baca juga: Tadarus Ramadan: Cahaya di Bulan Penuh Berkah

Kebiasaan itu kini tidak selalu ditemui. Sebagian kegiatan langsung dimulai dengan alasan efisiensi waktu. Padahal, tadarus singkat kerap menjadi pengingat bahwa setiap aktivitas dapat diletakkan dalam bingkai ibadah.

Upaya menghidupkan kembali kebiasaan tersebut terlihat dalam kegiatan yang diselenggarakan Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) Matraman pada Sabtu, 7 Maret 2026. Acara santunan bagi anak yatim dan duafa yang berlangsung di TK Aisyiyah Matraman 27, Jakarta Timur, diawali dengan tadarus Al-Qur’an oleh para pengurus yang hadir.

Pembacaan Al-Qur’an itu dimaksudkan sebagai pengingat akan tradisi yang pernah tumbuh dalam kegiatan Muhammadiyah dan Aisyiyah. Para pengurus berharap kebiasaan memulai aktivitas dengan tadarus dapat kembali diterapkan dalam berbagai kegiatan organisasi, tidak terbatas pada bulan Ramadan.

Pada kegiatan santunan tersebut, PCA Aisyiyah Matraman menyalurkan bantuan paket santunan kepada 40 anak binaan. Mereka berasal dari Pimpinan Ranting Aisyiyah Kayumanis Utara, Kayumanis Selatan, Kayumanis Tengah, dan Pisangan Baru. Kegiatan berlangsung sederhana, dengan suasana kekeluargaan yang terasa hangat setelah tadarus Al-Qur’an dibacakan bersama. (*)

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This