SILATURAHIM berasal dari dua kata dalam bahasa Arab. Silah yang berarti hubungan, dan rahim yang berarti kasih sayang. Dalam Islam, silaturahim mengacu pada menjaga hubungan kasih sayang dan persaudaraan dengan sesama manusia, terutama dengan keluarga dan kerabat. Kata ini telah diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi silaturahmi, yang merujuk persaudaraan sesama manusia secara umum.
Islam sendiri sangat menekankan silaturahmi. Hal tersebut secara tersurat disampaikan melalui Al-Qur’an maupun hadis Nabi Muhammad SAW. Seseorang yang sering menjalin hubungan baik akan lebih mudah memaafkan, menolong, dan menghargai orang lain. Silaturahmi membuat hati menjadi lembut, jauh dari sifat iri dan dengki. Dengan saling mengunjungi dan berkomunikasi, umat Islam dapat memperkuat rasa kebersamaan dan menghindari prasangka buruk.
“Kami punya program silaturahim rutin. Tiap bulan kami mengunjungi rumah para mantan guru dan karyawan yang sudah pensiun. Jika dari mereka sudah almarhum, kami tetap mengunjungi suami atau istri mereka dan anak-anaknya untuk tetap menjaga silaturahim antarkader Muhammadiyah agar tidak terputus,” kata Sofyan Hadi, kepala SMP Muhammadiyah 3 Jakarta Pusat, dalam sesi sharing season tentang program tahfiz di Aula SMA Muhammadiyah 11, Jalan Balai Pustaka Barat No. 2, Jakarta Timur, Rabu (4/3/2026).
Program silaturahim tersebut dijalankan secara konsisten oleh sekolah. Para guru yang telah purnatugas tetap dipandang sebagai bagian dari keluarga besar sekolah. Kunjungan dilakukan dari rumah ke rumah, menjaga hubungan yang telah terjalin selama bertahun-tahun. Bagi sekolah, hubungan dengan para pendidik terdahulu bukan sekadar kenangan, melainkan mata rantai yang terus disambung.

Tradisi itu juga terlihat saat sekolah mengadakan kegiatan studi tur. Para mantan guru, baik yang telah pensiun maupun yang kini mengajar di sekolah lain atau telah diangkat sebagai guru ASN, tetap diajak dalam perjalanan bersama para siswa.
“Silaturahim itu mengundang rezeki. Sangat mungkin doa-doa para sesepuh dari mantan guru itu yang menghadirkan banyak keberkahan di SMP Muhammadiyah 3,” ujar Sofyan Hadi.
Hubungan antargenerasi pendidik tersebut berjalan berdampingan dengan upaya sekolah membangun pendidikan Al-Qur’an melalui program tahfiz. Sofyan Hadi menjelaskan, keberhasilan program hafalan tidak bisa bergantung pada kesadaran siswa semata. Ada peran yang saling menguatkan di antara kepala sekolah, guru mata pelajaran lain, guru agama, guru tahfiz, serta orang tua.
Menurutnya, lingkungan keluarga memiliki pengaruh yang besar terhadap kemampuan hafalan siswa. Anak yang menunjukkan perkembangan baik di sekolah umumnya berasal dari keluarga yang menjalankan ibadah secara konsisten di rumah.
“Murid yang cukup baik hafalannya di sekolah hampir bisa dipastikan orang tuanya juga menjalankan ibadah dengan baik di rumah,” kata Sofyan Hadi.
Ia menambahkan, program tahfiz akan sulit berkembang jika anak hanya dititipkan di sekolah tanpa perhatian yang memadai dari keluarga. “Orang tua yang hanya menitipkan anaknya di sekolah berharap bisa mengikuti program tahfiz, tetapi di rumah anak-anaknya tidak diperhatikan secara fokus, maka hafalan Al-Qur’annya tidak akan meningkat,” ujarnya.
Di SMP Muhammadiyah 3 Jakarta Pusat, program tahfiz dirancang melalui metode pembelajaran yang kreatif, inovatif, dan komunikatif. Sekolah menargetkan siswa mampu membaca Al-Qur’an sesuai standar, memahami tajwid dengan benar, serta menghafal Juz Amma atau Juz 30 secara mutqin.
Setelah menyelesaikan hafalan Juz 30, para siswa melanjutkan hafalan ke Juz 29 dan seterusnya. Bagi sekolah, kemampuan membaca Al-Qur’an secara benar menjadi dasar utama sebelum memperbanyak hafalan.
“Hafalan itu penting. Namun membaca Al-Qur’an sesuai standar, tajwidnya benar, itu jauh lebih penting,” kata Sofyan Hadi.
Bagi para guru di sekolah tersebut, pendidikan Al-Qur’an berjalan berdampingan dengan ikatan kekeluargaan yang dijaga dari generasi ke generasi. Kunjungan sederhana ke rumah para guru lama menjadi cara merawat hubungan yang telah tumbuh lama. Dari ruang kelas hingga ruang tamu para sesepuh, silaturahim dijaga sebagai jalan yang diyakini membawa keberkahan bagi sekolah dan para siswanya.


