JAKARTAMU.COM | Perkembangan media digital, terutama media sosial, terus meluas seiring meningkatnya populasi usia muda, termasuk di Indonesia. Jempol generasi muda bergerak cepat menggulirkan layar TikTok dan Instagram, tetapi di baliknya tersimpan persoalan mendasar, yaitu rendahnya literasi.
Laporan Indeks Literasi Digital terbaru dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) bersama Katadata Insight Center (KIC) tahun 2025 menunjukkan Gen Z Indonesia mencatat kecakapan kritis digital di kisaran 62 persen. Angka ini berada di bawah Singapura (89 persen), Malaysia (75 persen), dan Vietnam (70 persen).
Temuan tersebut menggugurkan anggapan bahwa kefasihan mengoperasikan gawai berjalan seiring dengan kemampuan memahami informasi. Banyak pelajar terlihat terampil menggunakan perangkat, tetapi kesulitan membaca konteks dan memeriksa kebenaran isi. Mereka mahir memakai alat, namun kerap gagal menilai konten.
Fenomena ini mudah ditemukan di lingkungan sekolah. Ponsel menjadi bagian dari keseharian siswa, tetapi kemampuan membedakan informasi benar dan keliru belum terbentuk kuat. Rian (17), siswa SMA di Jakarta, menggambarkan situasi tersebut.

“Kita sering asal share karena judulnya menarik atau lagi ramai di FYP. Ternyata setelah dicek lagi, itu berita bohong atau editan AI. Banyak teman saya juga tertipu diskon palsu di media sosial yang ujung-ujungnya minta data pribadi,” ujarnya.
Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2025 mencatat penetrasi internet Indonesia mencapai 82,6 persen, dengan Gen Z sebagai pengguna dominan. Namun, tingginya akses belum diikuti kualitas pemahaman. Laporan We Are Social dan Meltwater tahun 2025 menunjukkan rata-rata orang Indonesia menghabiskan 8 jam 12 menit per hari di internet. Sebagian besar waktu tersebut digunakan untuk konsumsi hiburan pasif, bukan untuk memeriksa informasi atau aktivitas produktif
Rentan Eksploitasi
Angka kecakapan digital yang berada di kisaran 62 persen mencerminkan celah yang berdampak luas. Kerentanan terhadap eksploitasi data pribadi menjadi salah satu konsekuensi. Banyak pengguna muda memberikan izin akses lokasi, kontak, atau galeri kepada aplikasi pihak ketiga tanpa membaca syarat dan ketentuan.
Tekanan psikologis juga muncul akibat paparan konten yang tidak tersaring. Perbandingan sosial, gaya hidup semu, hingga perundungan siber memengaruhi kondisi mental. Selain itu, algoritma media sosial cenderung mempersempit sudut pandang pengguna. Informasi yang muncul berulang kali berasal dari sumber serupa, sehingga memperkuat bias dan memperbesar polarisasi.
Rendahnya literasi digital tidak muncul tanpa sebab. Kurikulum pendidikan masih berfokus pada keterampilan teknis, seperti penggunaan perangkat lunak, sementara kemampuan berpikir kritis belum mendapat porsi memadai. Siswa diajarkan cara menggunakan aplikasi, tetapi belum cukup dilatih untuk menguji kebenaran informasi atau mengenali manipulasi digital.
Budaya kecepatan dalam media sosial juga berpengaruh. Respons cepat sering dianggap lebih penting daripada ketepatan. Kebiasaan ini membuat banyak pengguna langsung menyukai atau membagikan konten tanpa verifikasi. Generasi yang lahir di era digital tumbuh dalam arus informasi yang deras, sementara bimbingan etika digital dari lingkungan keluarga belum merata.
Kondisi tersebut membuka ruang bagi berbagai bentuk penipuan digital. Kasus file berformat APK berkedok undangan atau resi, tawaran kerja lepas palsu melalui Telegram, hingga jebakan pinjaman daring ilegal banyak menargetkan mahasiswa dan pelajar. Kelemahan dalam aspek keamanan digital membuat mereka mudah tergiur iming-iming keuntungan cepat.
Seorang pakar keamanan siber dari Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) menggambarkan situasi ini dengan lugas. “Mereka merasa aman karena merasa ‘paham teknologi’, padahal penjahat siber jauh lebih memahami celah psikologis mereka,” ujarnya.
Solusi Pencegahan
Upaya perbaikan membutuhkan kerja bersama. Pendidikan literasi digital perlu diintegrasikan dalam kurikulum secara konsisten, mencakup etika, keamanan, dan kemampuan verifikasi informasi. Platform digital juga perlu memperkuat sistem penyaringan konten yang menyesatkan, terutama untuk pengguna di Indonesia yang jumlahnya besar dan terus bertambah.
Di sisi lain, pengembangan teknologi pendukung seperti alat pemeriksa fakta berbasis kecerdasan buatan perlu diperluas agar mudah diakses publik. Kemampuan memverifikasi informasi secara cepat dapat membantu pengguna mengambil keputusan yang lebih tepat dalam berinteraksi di ruang digital.
Persoalan literasi digital berkaitan langsung dengan kualitas generasi yang akan datang. Ketika akses informasi semakin luas, kemampuan memilah menjadi penentu arah.
Penulis: Usman Andrianto


