JAKARTAMU.COM | Selasa, 24 Maret 2026, lantai bursa Singapura menjadi saksi bisu runtuhnya martabat emas sebagai aset aman atau safe-haven. Pada pukul 13.21 waktu setempat, harga emas spot tersungkur 1,5 persen ke angka 4.342,80 dolar AS per ons. Ini bukan sekadar fluktuasi biasa, melainkan ancaman rekor kelam: penurunan harian kesepuluh berturut-turut. Sejak genderang perang di Timur Tengah bertalu akhir Februari lalu, emas telah ambrol hampir 17 persen.
Fenomena ini memusingkan nalar awam. Biasanya, ketika mesiu meledak, investor akan berbondong-bondong memeluk emas. Namun, kali ini ceritanya berbeda. Perang yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah menutup urat nadi pelayaran di Selat Hormuz, memicu lonjakan harga minyak brent hingga 45 persen dalam sebulan terakhir. Di sinilah letak anomali itu: hubungan terbalik antara logam kuning dan emas hitam.
Tingginya harga energi telah mengerek risiko inflasi global. Ketika inflasi membubung, harapan pasar agar bank sentral, khususnya Federal Reserve AS (The Fed), melonggarkan kebijakan moneter pun sirna. Prospek penurunan suku bunga acuan yang tadinya diperkirakan terjadi tiga kali tahun ini, kini menjadi samar-samar. Memegang emas, aset yang tidak memberikan imbal hasil atau non-yielding asset, menjadi beban di tengah suku bunga yang tetap tinggi.
Kepala riset komoditas global di Standard Chartered Plc, Suki Cooper, mencatat bahwa koreksi harga emas kali ini menunjukkan kinerja yang lebih buruk dari biasanya. Menurut Cooper, bukan hal aneh bagi emas untuk mengalami tekanan penurunan selama empat hingga enam pekan setelah periode kesulitan ekstrem. Emas terbukti menjadi aset paling likuid yang dikorbankan investor saat mereka membutuhkan dana segar dengan cepat.

Analogi serupa pernah terjadi saat invasi Rusia ke Ukraina pada 2022. Lonjakan awal komoditas safe-haven segera diikuti oleh penurunan berbulan-bulan karena guncangan harga energi menyebar ke seluruh pasar. Peter Kinsella, kepala strategi valuta asing di Union Bancaire Privee UBP SA, menjelaskan bahwa dalam krisis besar, investor cenderung menjual aset yang berkinerja baik untuk mendanai margin call pada aset yang terpuruk, seperti saham atau obligasi.
Di dalam negeri, guncangan ini merembet ke loket-loket PT Pegadaian (Persero). Pada perdagangan Selasa ini, daftar harga emas Antam absen dari situs resmi perusahaan. Fenomena hilangnya emas Antam di Pegadaian ini mengulang kejadian tahun 2025, yang memicu tanda tanya di kalangan kolektor batangan. Pegadaian hanya mencantumkan harga emas cetakan UBS di angka 2.862.000 rupiah per gram dan Galeri 24 di posisi 2.849.000 rupiah per gram.
Secara teknis, napas emas terlihat tersengal-sengal di zona bearish. Indikator Relative Strength Index (RSI) 14 hari berada di angka 26, jauh di bawah batas 50 yang menandakan pelemahan. Meski demikian, titik jenuh jual atau oversold mulai terlihat pada indikator Stochastic RSI yang menyentuh angka nol. Robert Gottlieb, mantan pedagang logam mulia di JPMorgan Chase & Co., melihat ada sedikit jaminan jangka pendek karena harga masih bertahan di atas rata-rata pergerakan 200 hari (MA 200).
Prediksi jangka pendek menunjukkan emas berpeluang melakukan teknikal rebound jika mampu melewati pivot point di 4.363 dolar AS per ons, dengan target resisten terdekat di 4.474 dolar AS. Namun, jika situasi di Selat Hormuz tak kunjung mendingin dan Donald Trump gagal meyakinkan sekutunya untuk mengamankan jalur minyak, emas berisiko melongsor lebih dalam ke kisaran 4.287 dolar AS per ons.
Pada akhirnya, kilau emas saat ini sedang tertutup debu inflasi dan asap peperangan. Pendorong jangka panjang memang belum berubah, namun untuk sementara waktu, posisi dan likuiditas adalah raja yang memaksa emas turun takhta. []


