SUASANA hangat memenuhi halaman Pondok Pesantren Tahfiz Al-Qur’an As Sulaimaniyah di Jalan Cipinang Baru, Pulogadung, Jakarta Timur, Senin (23/6/2026). Sore itu ada silaturahmi dan buka puasa bersama.
“Menjadi santri di tempat kami lumayan ketat seleksinya. Semua calon santri yang mendaftar kami seleksi hingga hanya 100 orang. Dari 100 orang itu kami minta tinggal di pondok untuk sekian waktu. Selama di pondok kami adakan seleksi akhlak. Jadi kami monitoring, kami awasi, dan kami nilai akhlak, adab, perilaku sehari-hari calon santri. Yang kami nilai cukup bagus akhlak perilakunya, kami saring lagi hanya 40 orang yang kami terima menjadi santri di sini,” ujar Abi Fauzan Kabir, penanggung jawab pondok.
Pengelola pondok meyakini, hafalan yang kuat berangkat dari karakter yang terjaga. Proses seleksi kemampuan membaca atau menghafal berlanjut pada sikap sehari-hari. Calon santri tinggal sementara di asrama untuk dinilai konsistensi adab dan disiplinnya dalam rutinitas sehari-hari.
Di ponpes ini para pengajar tidak dipanggil ustaz, melainkan disapa “Abi”. “Abi itu bukan dari bahasa Arab, tapi bahasa Turki yang berarti kakak atau abang,” ungkap Abi Fauzan.

Lewat penyebutan itu, relasi antara pengajar dan santri dibayangkan seperti hubungan kakak dan adik. Seorang Abi diharapkan mampu menjalin ikatan batin yang kuat dengan anak didiknya, sehingga hadir sebagai figur orang tua kedua. Kedekatan itu membuat suasana belajar terasa lebih akrab, tanpa mengurangi ketegasan aturan.
Sarah satu aturan yang paling dirasakan para santri adalah pembatasan penggunaan telepon genggam. Ketut Einstein, santri asal Bali, menceritakan pengalamannya kepada Jakartamu.com. “Untuk menjaga konsentrasi hafalan Al-Qur’an dan belajar, pihak pondok hanya mengizinkan para santrinya memegang HP satu hari dalam satu minggu, itu pun hanya beberapa jam saja,” katanya.
Kebijakan tersebut dirancang agar fokus santri tidak terpecah. Hari-hari mereka diisi dengan tahfiz—setoran hafalan baru—dan murojaah, yakni pengulangan hafalan lama. Ritme ini dijalankan konsisten setiap hari. Tanpa distraksi gawai, para santri diarahkan membangun kedekatan yang lebih intens dengan mushaf.
Pondok Pesantren Sulaimaniyah, yang di Indonesia dikenal dengan nama Yayasan Tahfidz Sulaimaniyah, berdiri sejak 2005. Jaringannya tersebar luas, dengan sekitar 5.000 cabang di berbagai negara. Di Indonesia, pondok ini telah 16 kali mewisuda santri penghafal Al-Qur’an.
Metode Sulaimaniyah dikenal dengan pola yang terstruktur: kombinasi antara hafalan baru dan pengulangan berkala. Hafalan tidak dibiarkan menumpuk tanpa penguatan. Setiap ayat yang disetorkan akan terus diputar kembali dalam siklus murojaah, sehingga daya ingat terjaga.
Menjelang azan magrib, para santri menutup mushaf dan bersiap berbuka.
Beberapa hari lagi, mungkin ada yang mendapat giliran memegang telepon genggam selama beberapa jam. Selebihnya, waktu mereka kembali pada pola yang sama: bangun sebelum fajar, mengulang hafalan, menyetor ayat, dan menjaga adab. (*)


