Ramadan dan Ukuran Perencanaan Ibadah

Must Read

KEBERHASILAN, dalam banyak hal, jarang hadir tanpa perencanaan. Prinsip itu pula yang berlaku dalam ibadah, termasuk puasa Ramadan. Menjelang bulan suci, banyak umat Islam berharap Ramadan kali ini lebih baik daripada tahun sebelumnya. Namun harapan itu sering tidak diikuti dengan persiapan yang serius dan terukur.

Hal tersebut disampaikan Ustaz H. Sihabuddin Umar, SE, MM, dalam Kajian Malam Kamis bertema Bagaimana Puasa Kita Selanjutnya di Masjid Al Huda, Cipinang Kebembem, Jakarta Timur, Rabu, 24 Desember 2025. Ia mengajak jemaah berhenti menganggap puasa sebagai rutinitas tahunan yang dijalani dengan pola yang sama dari waktu ke waktu.

“Jika rata-rata usia kita 60 tahun dan sejak umur 15 tahun sudah memulai puasa, maka kita ini umumnya sudah 45 kali berpuasa Ramadan. Namun apakah kelas puasa Ramadan kita meningkat atau level yang itu-itu saja tiap tahunnya?” ujar Ustaz Sihabuddin.

Ustaz H Sihabuddin Umar, SE., MM

Untuk memudahkan pemahaman, ia menggunakan analogi kelas dalam transportasi publik. Menurutnya, puasa pun bisa dilihat bertingkat, dari sekadar menahan lapar dan haus hingga puasa yang melahirkan dampak nyata dalam sikap dan kepedulian sosial.

Milad 117 H Muhammadiyah

“Jika kelas berpuasa kita sederhanakan menjadi kelas ekonomi, bisnis, eksekutif, dan super eksekutif, apakah tiap tahun kelas kita hanya di kelas ekonomi saja, asal berpuasa, asal menahan lapar dan haus saja dari subuh hingga maghrib tanpa ingin naik kelas yang lebih baik?” katanya.

Ia menekankan bahwa persiapan paling dasar adalah kesehatan. Puasa membutuhkan kondisi fisik yang baik, sebagaimana ibadah haji. Menjaga tubuh tetap bugar melalui olahraga dan pola hidup sehat menjadi bagian dari persiapan yang tidak bisa diabaikan. Menurutnya, jangan sampai seseorang justru tidak mampu menjalankan puasa karena sakit, sehingga harus menggantinya di luar Ramadan.

Selain fisik, kesiapan finansial juga menjadi faktor penting. Ustaz Sihabuddin mengingatkan agar umat Islam mulai mengatur anggaran sejak bulan-bulan sebelum Ramadan. Tujuannya agar pengeluaran selama Ramadan, khususnya untuk sedekah, tidak bergantung pada kondisi mendadak.

Ia mengutip hadis tentang keutamaan bersedekah di bulan Ramadan.
“عَنْ اَنَسٍ قِيْلَ يَا رَسُولَ اللهِ اَيُّ الصَّدَقَةِ اَفْضَلُ؟ قَالَ: صَدَقَةٌ فِى رَمَضَانَ”
Artinya, “Dari Anas dikatakan, ‘Wahai Rasulullah, sedekah apa yang nilainya paling utama?’ Rasul menjawab, ‘Sedekah di bulan Ramadhan.’” (HR At-Tirmidzi).

Menurutnya, keinginan untuk meningkatkan kualitas puasa harus diwujudkan dalam langkah konkret. Ia memberi contoh sederhana, meniatkan sejak sekarang untuk bersedekah satu mangkuk kolak setiap hari selama Ramadan. Jika satu mangkuk seharga Rp10 ribu, maka dana yang dibutuhkan sekitar Rp300 ribu untuk sebulan. Dana tersebut bisa disiapkan jauh hari dengan menabung secara khusus. Ia mendorong jamaah agar mulai berperan sebagai donatur buka puasa di lingkungan sekitar, bukan sekadar menjadi peserta.

Selain itu, Ustaz Sihabuddin juga menyinggung pentingnya ilmu dalam menjalankan ibadah. Ia mencontohkan persoalan hubungan suami istri di bulan Ramadan yang kerap disalahpahami. Hubungan badan di siang hari Ramadan hukumnya haram, membatalkan puasa, dan mewajibkan kafarat, sedangkan di malam hari hukumnya halal, sebagaimana dijelaskan dalam QS Al-Baqarah ayat 187.

Ia menjelaskan lebih lanjut mengenai siapa yang dikenai kewajiban kafarat. Menurutnya, yang wajib membayar kafarat adalah pihak suami. “Karena rata-rata yang berkeinginan untuk melakukan hubungan suami istri itu adalah pihak laki-laki. Istri hanya melayani saja, terlebih lagi istri tidak punya daya upaya untuk menolaknya,” jelasnya. Adapun istri, kata dia, hanya wajib mengqadha puasa sesuai jumlah hari yang batal.

Melalui kajian tersebut, Ustaz Sihabuddin mengajak jamaah memandang Ramadan sebagai ibadah yang perlu dirancang dengan kesadaran penuh. Kualitas puasa, menurutnya, tidak ditentukan oleh berapa kali Ramadan telah dilalui, melainkan oleh kesiapan fisik, finansial, dan pemahaman ilmu yang menyertainya.

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This