Sebesar apa pun ketidakpedulian saya terhadap apa yang melintas di hadapan mata, semua itu tetap meresap ke dalam pikiran, diolah bersama batin, lalu menumbuhkan makna serta pelajaran berharga tentang hidup. Dari situlah saya terdorong untuk terus bersyukur atas apa pun yang sedang saya nikmati saat ini.
Rasa cemas, kekhawatiran akan masa depan, dan ketakutan terhadap kematian itu terus berlangsung, bahkan mengambil bentuk yang semakin beragam. Hingga suatu ketika, saya berjumpa dengan seorang sahabat yang menjalani hidup secara biasa-biasa saja. Ia bukan tipe orang yang gemar berpidato di atas mimbar di hadapan ribuan pendengar, apalagi seorang motivator masyhur dengan segudang jurus penyelesai persoalan hidup. Ia hanyalah seorang guru non-PNS di sebuah madrasah, tanpa honor sertifikasi seperti yang diterima rekan-rekan sejawatnya.
Suatu hari ia melontarkan komentar singkat tapi menghentak: “Kamu ini sombong sekali, seolah-olah merasa bisa menjamin masa depan anak-anak dan istrimu. Sekarang kamu takut tidak bisa membahagiakan mereka? Apa kamu lupa, di atas kita semua ada Allah yang menjamin segalanya?”
Mak jleb !

Saya sama sekali tidak berani menyanggah kalimat itu. Saya memilih diam, menyimak setiap kata yang keluar dari mulut seorang teman lama, seorang guru madrasah. Ucapannya begitu menancap kuat dan membekas dalam batin.
Tidak lama kemudian, pada tahun 2020, wabah Covid-19 datang. Jutaan manusia meninggal akibat virus itu. Berita tentang kematian yang dulu terasa begitu berat dan mengagetkan, perlahan menjadi terasa lebih ringan di telinga. Banyak orang menjadi terbiasa dengan peristiwa kematian; saya pun demikian. Ketika mendengar kabar seseorang berpulang, saya hanya bergumam singkat,
“Oh, saatnya telah tiba… ya sudahlah.”
Pelan namun pasti, jiwa saya terlatih untuk menerima kabar dan peristiwa kematian. Dari waktu ke waktu, penerimaan itu tumbuh menjadi sikap batin yang lebih lapang, tanpa beban yang berlebihan.
Pagi ini, saya membaca satu bait dari tulisan Pramoedya Ananta Toer:
“Manusia punya kodratnya masing-masing, dan tidak ada seorang pun yang bisa mengubah kodrat itu.” (Bukan Pasar Malam, 1961: 50)
Dari bait itu, saya belajar untuk terus menyingkirkan rasa takut. Bukan dengan menolaknya, melainkan dengan menggantinya menjadi ikhtiar sungguh-sungguh untuk menyiapkan diri menyambut kepastian itu ketika ia tiba. (*)


