RAMADAN selalu menghadirkan suasana berbeda. Di kampus, kantor, dan lembaga pendidikan, ceramah singkat selepas zuhur atau kuliah tujuh menit alias kultum, menjadi agenda tetap. Waktunya ringkas, materinya padat, lalu jamaah kembali ke rutinitas masing-masing.
Namun ada satu kebiasaan yang kerap memunculkan tanda tanya. Seusai salat berjamaah, penceramah kultum terkadang langsung naik ke mimbar tanpa didahului zikir atau doa bersama. Sebagian jamaah masih berdiri menunaikan salat sunah, sementara ceramah sudah dimulai.
“Menuntut ilmu atau menghadiri majelis taklim lebih utama daripada ibadah sunnah seperti salat atau zikir sunnah,” ujar Situasi Dr. H. Ahmad Rifa’i, M.Pd.I., anggota Lembaga Pengembangan Pesantren dan Pendidikan (LP2) Muhammadiyah DKI Jakarta, dalam kajian bakda subuh di Masjid Al Huda, Cipinang Kebembem, Jakarta Timur, Minggu (22/2/2026).
Ia menjelaskan, ilmu menjadi dasar sekaligus penentu sah atau tidaknya ibadah. Dengan ilmu, seseorang mengetahui tata cara dan tujuan ibadah yang benar. Manfaatnya pun meluas, tidak hanya untuk diri sendiri. Sebaliknya, ibadah sunnah umumnya berdampak personal.

Karena itu, ia memandang perlu ada pemahaman yang disampaikan kepada masyarakat. Ketika ceramah telah dimulai, jamaah tidak perlu lagi berdiri untuk menunaikan salat sunnah seolah-olah lebih utama daripada mendengarkan taklim. Menurutnya, mendengarkan ilmu pada saat itu justru lebih didahulukan.
Ceramah zuhur sendiri dirancang singkat dan satu arah. Tanpa dialog panjang, penceramah menyampaikan inti persoalan agar mudah dipahami dan tidak menyita waktu kerja atau belajar jemaah. Format seperti ini membuat kajian tetap berjalan efektif, sekaligus memberi ruang refleksi sebelum aktivitas kembali dilanjutkan.
Rifa’i juga menyinggung soal gangguan iblis terhadap orang yang berpuasa. Ramadan, katanya, bukan hanya soal menahan lapar dan dahaga, melainkan juga menjaga diri dari kelalaian.
Ia mencontohkan fenomena ngabuburit. Tradisi menunggu waktu berbuka itu sering diisi dengan kegiatan santai yang kurang produktif. Ada yang berjalan-jalan tanpa tujuan jelas, melihat hal-hal yang seharusnya dijaga pandangannya, atau sekadar menghabiskan waktu sambil berbelanja makanan dan minuman untuk berbuka.
Bagi Ahmad Rifa’i, Ramadan adalah momentum mengatur ulang prioritas. Waktu luang dapat diisi dengan membaca, berdiskusi, atau menghadiri majelis ilmu. Pada titik itulah, taklim menemukan relevansinya: memberi arah pada ibadah dan menjaga puasa tetap bermakna sepanjang hari.


