Study Tour dan Ide Pendidikan Berkemajuan ala Sutomo

Must Read

STUDY tour atau wisata edukasi mungkin hanya pelengkap bagi sebagian sekolah. Tetapi bagi sebagian yang lain, ia adalah bagian dari desain pendidikan itu sendiri, yaitu sebagai cara menghadirkan pengalaman belajar yang di luar ruang kelas.

Study tour memang dirancang untuk memberi pengalaman langsung kepada peserta didik melalui kunjungan ke tempat-tempat yang berkaitan dengan materi pelajaran. Gagasan ini berangkat dari keyakinan sederhana: “di manapun tetap menuntut ilmu”. Setiap tempat dapat menjadi madrasah, setiap waktu membuka peluang belajar.

Semangat itu terasa di Kampus Universitas Muhammadiyah Makassar, Jalan Sultan Alauddin Nomor 259, Gunung Sari, Kecamatan Rappocini, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa, 11 Februari 2025. Sehari sebelum pembukaan Olympicad Makassar yang berlangsung pada 12–14 Februari 2026, dua puluh kepala sekolah dari berbagai daerah di Indonesia mengikuti Pelatihan Sertifikasi Kompetensi Kerja Instruktur Terampil. Kegiatan ini diselenggarakan Forum Guru Muhammadiyah.

Ketua panitia pelatihan adalah Sutomo, M.Ag., kepala SMP Muhammadiyah Plus Kota Salatiga. Namanya sempat ramai diperbincangkan tahun lalu ketika program study tour SD Muhammadiyah Plus Salatiga viral di media sosial. Para murid berangkat menggunakan pesawat maskapai Garuda Indonesia. Tentu saja itu mengejutkan bagi kebanyakan orang. Namun menurut Sutomo, program tersebut adalah kelanjutan dari gagasan yang sudah dijalankan sejak 2011.

Milad 117 H Muhammadiyah

Wisata edukasi di SD Muhammadiyah Plus Salatiga dimulai pada 2011, ketika Sutomo masih memimpin sekolah tersebut. Program itu dirancang sebagai bagian dari pembelajaran, bukan sekadar perjalanan. Murid-murid diajak mengunjungi lokasi yang relevan dengan materi pelajaran, berdialog dengan narasumber, dan menuliskan refleksi atas pengalaman mereka.

Ketika SMP Muhammadiyah Plus Salatiga berdiri—yang sebelumnya berada dalam satu atap dengan SD—program serupa diteruskan dan dikembangkan. Pada 2023, untuk pertama kalinya, wisata edukasi bagi murid SMP dilaksanakan ke Turki selama sepekan. Perjalanan itu dirancang untuk mempertemukan pelajaran sejarah, peradaban Islam, dan pengalaman lintas budaya dalam satu rangkaian kegiatan belajar.

Study tour, kata Sutomo, adalah ruang belajar yang memperluas cakrawala murid. Sebab pengetahuan tidak cukup hanya bersandar teori dalam buku pelajaran. Anak-anak melihat langsung objek yang dipelajari, mendengar cerita dari sumbernya, dan merasakan suasana yang sebelumnya hanya dibayangkan. Dari situ tumbuh keterampilan bekerja sama, kemandirian, kemampuan beradaptasi, dan keberanian berinteraksi.

Relasi sosial antar-murid pun menguat karena mereka belajar hidup bersama selama perjalanan. Guru memiliki kesempatan mengenal karakter peserta didik secara lebih utuh. Sementara bagi murid, pengalaman di luar sekolah menjadi pemantik semangat belajar ketika kembali ke kelas.

Dalam kerangka pendidikan Muhammadiyah, gagasan ini sering dikaitkan dengan cita-cita melahirkan “Murid Berkemajuan”. Murid yang tidak hanya menguasai pengetahuan, tetapi juga memiliki keluasan pandangan, daya jelajah intelektual, dan kesiapan menghadapi perubahan.

Pelatihan di Makassar, yang diikuti para kepala sekolah dari berbagai daerah, menjadi ruang berbagi pengalaman dan penguatan kompetensi. Gagasan study tour dibicarakan sebagai bagian dari inovasi pembelajaran. Dari Salatiga hingga Makassar, dari ruang kelas hingga perjalanan lintas negara, pendidikan dirancang sebagai proses yang terus bergerak—mencari bentuk terbaik untuk menumbuhkan generasi yang siap melangkah lebih jauh.

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This