JAKARTAMU.COM | Islam diturunkan sebagai agama yang selaras dengan fitrah manusia dan tidak dimaksudkan untuk memberatkan pemeluknya. Prinsip kemudahan itu menjadi dasar dalam seluruh syariat yang ditetapkan Allah SWT bagi umat Islam.
Hal tersebut disampaikan Ustaz M. Isa Ghozy Rantau, Lc., M.A. dalam pengajian Forum Orang Tua Murid SMA Muhammadiyah 11 yang digelar di Masjid Ar Rahman, Jalan Balai Pustaka Nomor 1, Pulogadung, Jakarta Timur, Rabu (14/1/2026).
Ia menjelaskan, salah satu bukti pentingnya syariat salat adalah cara perintah itu disampaikan. Kewajiban salat, kata dia, diterima langsung oleh Rasulullah SAW ketika menghadap Allah SWT dalam peristiwa Isra Mikraj, tanpa perantaraan Malaikat Jibril.
“Salat itu perintah yang sangat fundamental. Karena itu, Allah SWT menyampaikannya secara langsung kepada Rasulullah SAW, bukan melalui wahyu yang diturunkan seperti syariat lainnya,” ujar Isa Ghozy.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyinggung kekeliruan sebagian mubalig dalam memahami Surah Al-Baqarah ayat 286. Ayat tersebut menegaskan bahwa Allah tidak membebani seseorang melampaui kesanggupannya dan diakhiri dengan doa agar manusia tidak dipikulkan beban yang tidak mampu mereka tanggung.
Menurut Isa Ghozy, beban yang dimaksud dalam ayat itu sering disalahartikan sebagai beban hidup secara umum, padahal yang dimaksud adalah beban syariat.
“Yang dimaksud beban dalam ayat itu adalah beban syariat, bukan persoalan hidup sehari-hari. Syariat yang sudah ditetapkan Allah pasti sesuai dengan kemampuan manusia,” katanya.
Ia mencontohkan kewajiban salat lima waktu yang telah disesuaikan dengan kondisi fisik manusia. Bagi orang yang tidak mampu salat dengan berdiri, Islam memberikan keringanan untuk melaksanakannya dengan duduk, bahkan berbaring jika kondisi kesehatan tidak memungkinkan.
Contoh lain, kata dia, terlihat pada kewajiban puasa yang hanya berlangsung satu bulan dalam setahun, serta ibadah haji yang diwajibkan bagi mereka yang mampu secara fisik dan finansial.
“Semua syariat itu sudah diatur dengan sangat proporsional. Tidak ada yang dipaksakan di luar kemampuan manusia,” ujar Isa Ghozy.
Ia menambahkan, menjalankan perintah agama merupakan bagian dari fitrah manusia. Setiap ketentuan dalam syariat Islam mengandung kemaslahatan dan tidak bertentangan dengan naluri dasar manusia dalam menjalani kehidupan.
Menurutnya, kemudahan dan keluwesan dalam syariat justru menunjukkan keselarasan antara ajaran Islam dan kebutuhan manusia. Karena itu, menjalankan syariat seharusnya dipahami sebagai jalan hidup yang menenteramkan, bukan sebagai beban.


