ALHAMDULILLAH, Presiden Prabowo baru saja melantik Mochamad Irfan Yusuf atau Gus Irfan sebagai Menteri Haji dan Umrah, serta Dahnil Anzar Simanjuntak sebagai wakilnya. Pelantikan di Istana Negara pada Senin, 8 September 2025 itu menandai dimulainya kerja kementerian baru yang lahir dari kesepakatan pemerintah dan DPR. Publik menaruh harapan besar pada pembenahan urusan haji, terutama karena biaya yang kian tinggi dan antrean keberangkatan yang bisa memakan waktu puluhan tahun.
Senapas dengan hal itu, umrah semakin dipandang sebagai pilihan yang lebih realistis. Selain tidak membutuhkan kesiapan fisik sebesar haji, pelaksanaannya lebih fleksibel dan biayanya relatif terjangkau. Meski demikian, paket resmi umrah dari biro perjalanan juga mengalami kenaikan harga. Dari sinilah muncul fenomena umrah mandiri atau yang akrab disebut umrah backpacker.
Abdul Malik, aktivis Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) yang pernah menjabat Kepala Sekretariat PP Muhammadiyah Menteng Raya 62, berbagi pengalamannya. Ia menuturkan, dengan mengatur perjalanan sendiri, biaya umrah bisa ditekan hingga sekitar Rp15–16 juta per orang. “Kalau mandiri, kita yang mengurus semua. Dari perlengkapan seperti koper, mukena, pakaian ihram, hingga tiket pesawat dan penginapan,” ujarnya saat ditemui Jakartamu.com di sebuah kedai kopi di Rawamangun, Jakarta Timur, Sabtu (6/9/2025).
Namun, pilihan ini memiliki tantangan tersendiri. Jamaah harus siap menghadapi penerbangan transit, mengurus bagasi, hingga mencari transportasi dan akomodasi secara mandiri. Risiko lebih tinggi karena tidak ada pendamping resmi dari agen perjalanan.

Ahmad Syaifullah, seorang traveller muda, juga melihat tren ini berkembang pesat. Ia menyebut kini sudah banyak komunitas umrah backpacker yang bisa saling berbagi informasi. “Bagi yang belum punya pengalaman, jangan khawatir. Ada banyak orang dan komunitas yang bisa membantu dari awal sampai akhir,” katanya. Meski begitu, ia mengingatkan perlunya kewaspadaan dalam memilih rekanan agar terhindar dari penipuan.
Persiapan umrah mandiri umumnya dilakukan enam bulan hingga setahun sebelumnya. Dari tiket pesawat, jamaah bisa memilih penerbangan sesuai anggaran, begitu juga dengan penginapan. Menurut Syaifullah, bahkan kamar dengan tarif Rp150 ribu per malam pun tersedia di sekitar Mekkah dan Madinah.
Ia juga menyebut adanya varian perjalanan yang disebut “Umrah Backpacker Plus.” Setelah rangkaian ibadah, jamaah bisa melanjutkan ke Turki, Mesir, atau Al Aqsa jika situasi di Palestina memungkinkan.
Ya, tampaknya jamaah beradaptasi dengan situasi biaya dan antrean haji. Umrah mandiri telah menjelma sebagai cara baru berhaji yang lebih hemat sekaligus membuka ruang bagi pengalaman perjalanan yang lebih personal. (*)


