Urgensi Penguatan Ideologi Muhammadiyah bagi Para Kader

Must Read

Oleh Prof. Dr. Mohammad Nur Rianto Al Arif |Guru Besar di Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN Syarif Hidayatullah, Ketua PDM Jakarta Timur

DALAM dinamika sejarah bangsa Indonesia, Muhammadiyah telah memainkan peran penting sebagai gerakan Islam yang konsisten memperjuangkan dakwah amar ma’ruf nahi munkar. Sejak berdirinya pada 1912 di Yogyakarta oleh KH Ahmad Dahlan, Muhammadiyah tidak hanya menjadi organisasi keagamaan, tetapi juga menjadi kekuatan sosial yang berkontribusi besar dalam pendidikan, kesehatan, pemberdayaan masyarakat, hingga pembangunan bangsa.

Namun, keberhasilan besar ini tidak datang begitu saja. Ada fondasi ideologis yang kuat di baliknya. Ideologi itulah yang mengikat para kader Muhammadiyah dari generasi ke generasi, memastikan arah perjuangan tidak melenceng dari visi Islam berkemajuan.

Penguatan ideologi Muhammadiyah bagi para kader menjadi sangat mendesak dalam derasnya arus globalisasi, pragmatisme politik, serta tantangan radikalisme maupun liberalisme saat ini. Tanpa penguatan ideologi, kader bisa kehilangan arah, amal usaha kehilangan ruh, dan Muhammadiyah bisa terjebak hanya menjadi organisasi sosial biasa tanpa identitas keislaman yang jelas.

Milad 117 H Muhammadiyah

Gerak dakwah Muhammadiyah dibingkai dalam konsep yang dikenal sebagai Gerakan Islam Berkemajuan. Konsep ini bukan sekadar jargon, tetapi cerminan pandangan hidup dan orientasi gerakan yang mengakar sejak pendirinya.

Islam Berkemajuan berarti menampilkan Islam sebagai agama yang rahmatan lil-‘alamin, mampu memberikan solusi atas persoalan kemanusiaan, dan mendorong kemajuan peradaban. Islam tidak hanya dipahami dalam dimensi ritual, tetapi juga sosial, ekonomi, politik, dan budaya.

KH Ahmad Dahlan, melalui pengajian-pengajiannya, menekankan bahwa ajaran Islam harus diwujudkan dalam kehidupan nyata. Surah Al-Ma’un, misalnya, tidak cukup dihafalkan, tetapi harus diwujudkan dalam amal nyata berupa pelayanan sosial, pendidikan bagi anak yatim, dan pemberdayaan fakir miskin. Dari sinilah lahir ribuan amal usaha Muhammadiyah yang kini tersebar di seluruh pelosok negeri.

Gerakan ini juga menunjukkan bahwa Muhammadiyah tidak alergi terhadap modernitas. Justru sebaliknya, Muhammadiyah berusaha menjembatani Islam dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Itulah yang membedakan Muhammadiyah dari sebagian gerakan Islam lain bahwa Muhammadiyah mampu memadukan keaslian ajaran dengan dinamika zaman.

Tujuan dan Ciri Khas Ideologi Muhammadiyah

Bagi setiap kader, memahami tujuan ber-Muhammadiyah adalah hal fundamental. Muhammadiyah bukanlah sekadar wadah berkumpul atau organisasi sosial biasa, melainkan gerakan dakwah Islam yang memiliki tujuan besar.

Tujuan ber-Muhammadiyah bagi para kader dapat dijelaskan dalam beberapa hal. Pertama, menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Tujuan kedua ialah untuk membentuk pribadi Muslim berakhlak mulia, yang berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman yang rasional dan kontekstual.

Tujuan berikutnya ialah mengembangkan amal usaha sebagai sarana dakwah yang nyata dan berkesinambungan. Kemudian tujuan keempat ialah untuk membina kader-kader umat dan bangsa agar memiliki komitmen ideologis, integritas, serta kompetensi dalam berbagai bidang kehidupan. Serta tujuan terakhir ialah agar dapat memberikan kontribusi bagi pembangunan bangsa dan kemanusiaan universal, karena Islam berkemajuan berarti berperan aktif dalam menciptakan perdamaian, keadilan, dan kesejahteraan dunia.

Dengan memahami tujuan ini, kader akan menyadari bahwa ber-Muhammadiyah bukanlah pilihan sesaat, melainkan sebuah komitmen jangka panjang untuk mengabdikan diri kepada umat, bangsa, dan agama.

Secara sederhana, ideologi Muhammadiyah dapat dipahami sebagai sistem keyakinan, nilai, dan prinsip yang menjadi landasan serta arah gerakan Muhammadiyah. Ia bukan ideologi buatan manusia semata, melainkan berakar pada Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW, dengan semangat ijtihad yang kreatif dan progresif.

Ciri khas ideologi Muhammadiyah menurut penulis dapat dirangkum dalam beberapa hal berikut. Pertama ialah purifikasi (pemurnian akidah dan ibadah). Muhammadiyah berkomitmen membersihkan praktik keagamaan dari unsur takhayul, bid’ah, dan khurafat yang tidak memiliki dasar syar’i.

Kedua, tajdid (pembaharuan sosial dan pemikiran). Muhammadiyah mendorong umat Islam untuk aktif menggunakan akal dan ijtihad dalam menghadapi tantangan zaman, termasuk dalam bidang ilmu pengetahuan, pendidikan, dan teknologi. Ketiga, amaliah sosial. Ideologi Muhammadiyah menekankan bahwa agama harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Karena itu, lahir sekolah, universitas, rumah sakit, panti asuhan, dan berbagai amal usaha lainnya.

Keempat, moderasi dan keseimbangan. Ideologi Muhammadiyah menolak sikap ekstrem, baik fundamentalisme yang kaku maupun liberalisme yang terlalu longgar. Ia berada di jalur tengah, sesuai dengan prinsip ummatan wasathan. Ciri kelima ialah kemandirian organisasi. Muhammadiyah menjaga independensinya dari kepentingan politik praktis, agar dakwah tidak tergadaikan oleh kekuasaan.

Dengan ideologi ini, Muhammadiyah tidak hanya bertahan lebih dari satu abad, tetapi juga terus berkembang sebagai gerakan Islam yang modern, inklusif, dan berpengaruh di tingkat nasional maupun internasional.

Kader adalah ujung tombak gerakan. Kualitas ideologi kader akan menentukan masa depan Muhammadiyah. Jika kader tidak memahami ideologi, akan muncul sejumlah masalah serius. Pertama, pragmatisme gerakan. Tanpa ideologi, kader bisa terjebak dalam orientasi pragmatis yaitu bergabung ke Muhammadiyah sekadar mengejar jabatan, popularitas, atau keuntungan pribadi. Gerakan kehilangan arah dakwah.

Kedua, krisis identitas. Kader yang lemah ideologi mudah terombang-ambing oleh arus luar, entah radikalisme atau liberalisme. Akibatnya, Muhammadiyah bisa kehilangan karakter khasnya sebagai gerakan Islam berkemajuan.

Ketiga, mandeknya amal usaha. Amal usaha Muhammadiyah berpotensi berubah menjadi institusi komersial biasa jika para pengelolanya tidak memahami bahwa amal usaha adalah instrumen dakwah. Keempat, perpecahan internal. Minimnya kesadaran ideologis membuat kader mudah terpengaruh oleh politik praktis atau kepentingan kelompok tertentu, yang bisa memicu konflik internal.

Terakhir, stagnansi dalam kaderisasi. Generasi muda akan kehilangan kebanggaan dan motivasi menjadi bagian dari Muhammadiyah jika tidak memahami keunikan ideologinya. Dengan kata lain, tanpa penguatan ideologi, masa depan Muhammadiyah akan terancam. Amal usaha bisa tetap berjalan, tetapi ruh perjuangannya hilang.

Strategi Penguatan Ideologi bagi Kader Muhammadiyah

Menyadari betapa pentingnya ideologi, Muhammadiyah perlu menempuh strategi yang sistematis untuk memperkuat pemahaman kader. Beberapa langkah strategis yang dapat dilakukan secara organisasi. Pertama, revitalisasi kurikulum kaderisasi. Kaderisasi Muhammadiyah, baik formal maupun nonformal, harus menempatkan ideologi sebagai materi inti. Pengajian Darul Arqam, Baitul Arqam, atau perkaderan di organisasi otonom seperti IMM, IPM, dan NA perlu terus diperbarui dengan pendekatan yang relevan bagi generasi muda.

Strategi kedua ialah penguatan literasi ideologis. Kader perlu didorong untuk membaca, menulis, dan berdiskusi tentang ideologi Muhammadiyah. Penerbitan buku, jurnal, majalah, hingga konten digital bertema Islam berkemajuan harus digiatkan. Dengan begitu, ideologi tidak hanya berhenti di forum formal, tetapi hidup dalam keseharian kader.

Strategi ketiga ialah keteladanan dari para pimpinan Muhammadiyah mulai dari tingkat pusat sampai tingkat ranting. Pimpinan Muhammadiyah di semua level harus menjadi teladan dalam menjalankan nilai-nilai ideologi. Keteladanan jauh lebih efektif daripada sekadar ceramah. Jika pimpinan menunjukkan integritas, amanah, dan akhlak mulia, kader akan lebih mudah meneladani.

Strategi keempat ialah integrasi ideologi dalam amal usaha. Amal usaha Muhammadiyah perlu terus diikat dengan misi dakwah. Perguruan tinggi Muhammadiyah, misalnya, harus menanamkan nilai Islam berkemajuan dalam kurikulumnya. Rumah sakit Muhammadiyah harus menghadirkan layanan kesehatan yang mencerminkan nilai kepedulian Islam.

Strategi berikutnya ialah pemanfaatan media digital. Generasi muda adalah generasi digital. Karena itu, ideologi Muhammadiyah harus dikemas dengan bahasa dan medium yang relevan dengan dunia mereka: video pendek, podcast, infografis, hingga kampanye media sosial.

Strategi keenam ialah kemandirian finansial. Salah satu faktor yang bisa menggoyahkan ideologi adalah ketergantungan pada pihak luar. Karena itu, Muhammadiyah perlu terus memperkuat kemandirian finansial amal usahanya, agar tidak terjebak pada agenda eksternal yang bisa melemahkan ideologi.

Strategi terakhir ialah perlu ada sinergi global. Penguatan ideologi juga harus dikaitkan dengan tantangan global. Muhammadiyah harus aktif terlibat dalam isu-isu kemanusiaan internasional, seperti perdamaian dunia, krisis lingkungan, atau ketidakadilan global. Hal ini penting agar ideologi Muhammadiyah tetap aktual dan kontekstual.

Penguatan ideologi Muhammadiyah bagi para kader melainkan kebutuhan mendesak. Ideologi adalah ruh yang menghidupkan amal usaha, kompas yang menjaga arah gerakan, sekaligus perekat yang mempersatukan kader lintas generasi.

Dengan visi Gerakan Islam berkemajuan, tujuan ber-Muhammadiyah yang luhur, serta ideologi yang moderat dan progresif, Muhammadiyah telah terbukti menjadi gerakan yang mampu bertahan lebih dari satu abad. Namun, semua itu akan sia-sia jika kader masa kini dan mendatang tidak memahami dan menginternalisasi ideologi tersebut.

Karenanya, strategi penguatan ideologi harus dilakukan secara serius, sistematis, dan berkelanjutan. Dari kurikulum kaderisasi, literasi ideologis, teladan pimpinan, hingga pemanfaatan media digital, semuanya harus bergerak seiring.

Jika ideologi berhasil ditanamkan dengan kuat pada setiap kader, maka Muhammadiyah akan terus menjadi cahaya Islam berkemajuan. Dia menerangi umat Islam di Indonesia, juga memberi kontribusi bagi peradaban dunia. (*)

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This