JAKARTAMU.COM | Sebanyak 42 peserta mengikuti workshop Tari Zapin Muhammadiyah, Sabtu (20/9/2025). Worshop yang digelar Lembaga Seni Budaya (LSB) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DKI Jakarta ini merupakan ajang sosialisasi Tari Zapin yang telah diluncurkan pada Agustus lalu.
Imbong Hasbullah, Ketua II LSB PWM DKI Jakarta mengungkapkan, Tari Zapin adalah salah satu buah karya otentik LSB DKI Jakarta yang sedang dikembangkan. Tarian ini lahir dari gagasan menghadirkan kesenian Islami yang modern sekaligus bisa diterima keluarga besar Muhammadiyah.
”Zapin itu berawal dari keinginan kita supaya ada kesenian Islami yang modern, tapi tetap bisa dinikmati di lingkungan Muhammadiyah,” ujarnya ditemui di Aula Djuanda Gedung Dakwah Muhammadiyah Kramat.
Tari Zapin Muhammadiyah tercipta melalui kerja kolektif. Lagu diciptakan Prof. Agus Suradika, (Wakil Ketua PWM DKI Jakarta), syairnya ditulis Prof. Imam S Bumiayu (Ketua LSB DKI Jakarta), sementara gerakan tari disusun Imbang bersama tim. “Harapannya, tarian ini bisa jadi penguatan budaya kita sekaligus memberi identitas seni bagi Muhammadiyah,” kata Imbong.

Menurut dia, melalui Tari Zapin, Muhammadiyah sebagai organisasi Islam besar tetap dapat menikmati kesenian dan kebudayaan tanpa meninggalkan nilai keislaman. Karena itu, pihaknya berharap Taris Zapin Muhammadiyah bisa menjadi tarian pembuka resmi dalam berbagai kegiatan Muhammadiyah.
Workshop ini diikuti guru SD, SMP, SMA, sekolah Muhammadiyah di Jakarta, lembaga, organisasi otonom (ortom) seperti Aisyiyah dan Nasyiatul Aisyiyah, serta unit kegiatan mahasiswa beberapa kampus, juga siswa sanggar tari. Para peserta mendapat amanah untuk mensosialisasikan Tari Zapin di tempat masing-masing.
Berlanjut ke Lomba
Dalam workshop tersebut diberikan pula materi Peran Seni dalam Menyapa Jamaah melalui Media Digital yang disampaikan Dr. Nurlina Rahman, M.Si., S.Pd. Sebagai tugas lanjutan, para peserta diminta membuat video dari Tari Zapin oleh siswa sekolah-sekolah di Jakarta sebaik mungkin sebagaimana materi yang telah disampaikan.

“Peserta diminta membuat video, boleh pendek atau panjang, sesuai kreativitas masing-masing,” kata ketua I LSB DKI Jakarta ini di lokasi yang sama.
Tari Zapin yang dilaksanakan oleh siswa itu sendiri akan dilombakan. Tim yang terpilih sebagai juara 1, 2, 3, dan harapan 1 akan berkesempatan tampil pada pementasan drama kolosal di Taman Ismail Marzuki, 4 November mendatang. Pemenang 1 dan 2 akan tampil di pementasan malam, sementara juara 3 dan harapan 1 akan tampil di siang hari.
Menurut Lina, antusiasme peserta cukup tinggi. “Rata-rata mereka senang, karena selama ini sudah terbiasa mengambil gambar dengan handphone. Tapi setelah diberi materi dasar, mereka baru tahu ada teknik khusus agar hasil rekaman lebih bagus,” ujarnya.
Lina berharap Tari Zapin dapat menjadi identitas seni Muhammadiyah untuk acara seremonial. “Selama ini kita masih menggunakan tarian dari daerah lain, seperti Aceh dengan Tari Saman. Harapannya zapin bisa menjadi tari pembuka khas Muhammadiyah,” kata Nurlina.
Upaya ini juga didukung oleh tim LSB melalui garapan musik dan tari, serta melibatkan sekolah-sekolah Muhammadiyah untuk memperluas sosialisasi. “Melalui media digital, identitas komunitas kita akan lebih mudah dikenali publik,” kata dia.


