JAKARTAMU.COM | Lima pekan sudah Masjid Al-Aqsa tetap tertutup bagi jemaah. Otoritas Israel tidak membuka akses warga muslim Palestina yang ingin beribadah di kompleks suci umat Islam itu. Akibatnya, membuat ribuan warga Palestina terpaksa melaksanakan salat Jumat di jalan-jalan sempit sekitar Kota Tua, Jumat (3/4/2026).
Sejak pagi, aparat keamanan Israel memperketat penjagaan di setiap pintu masuk. Pos pemeriksaan dipasang, dan hanya segelintir orang yang diizinkan melintas. Akibatnya, trotoar, gang, hingga lapangan kecil di sekitar Kota Tua berubah menjadi ruang ibadah dadakan. Suasana khusyuk bercampur dengan rasa getir, ketika ribuan jamaah menunaikan salat di bawah pengawasan ketat aparat bersenjata.
Penutupan ini disebut sebagai pelanggaran serius terhadap kebebasan beribadah. Otoritas Palestina menilai langkah Israel sebagai upaya mengubah status quo di Al-Aqsa, sekaligus memperkuat kontrol penuh atas situs suci. Kekhawatiran semakin besar karena kelompok ekstremis Yahudi mendorong agar Al-Aqsa dibuka untuk ritual pengorbanan selama perayaan Paskah Yahudi, yang berlangsung 2–9 April 2026.
Situasi ini menambah ketegangan di tengah perang Israel–Iran yang masih berlangsung. Para tokoh agama dan organisasi internasional memperingatkan, penutupan berulang dapat memicu eskalasi lebih luas, bukan hanya di Yerusalem, tetapi juga di kawasan Timur Tengah.

Bukan hanya perlawanan, salat di jalanan adalah simbol keteguhan iman warga Palestina. “Kami tidak akan meninggalkan Al-Aqsa, meski harus beribadah di luar temboknya,” ujar seorang jemaah penuh keyakinan.


