Trump Bikin Retak NATO: Frustasi Perang Lawan Iran, Lecehkan Macron

Must Read

JAKARTAMU.COM | Hubungan Amerika Serikat dan Eropa mendidih. Sementara adu rudal AS-Israel dengan Iran masih berlangsung, Presiden Donald Trump melontarkan serangan verbal terhadap sekutu dekatnya, Presiden Prancis Emmanuel Macron, Rabu (1/4/2026). 

Dalam sebuah jamuan makan malam resmi di Gedung Putih, Trump di depan para tamu undangan, Trump secara terbuka mengekspresikan kekecewaannya terhadap manuver diplomatik Macron. Ia menuding sekutu-sekutu Eropa hanya ingin menikmati “perlindungan gratis” tanpa mau berkontribusi saat genderang perang ditabuh.

Keengganan Prancis untuk mengirimkan bantuan militer langsung ke Teluk, memilih jalur de-eskalasi yang dianggap Trump sebagai pelemahan. “Saya menelepon Prancis, Macron, dan meminta bantuan kapal perang segera ke Teluk. Tapi apa jawabannya? Dia bilang, ‘Tidak, Donald, kita bisa bantu setelah perang dimenangkan,’” tutur Trump dengan nada sarkastik, menirukan aksen Prancis Macron di hadapan hadirin.

Trump menegaskan bahwa NATO, aliansi militer yang dibentuk pasca Perang Dunia II, kini tak lebih dari “macan kertas” jika negara-negara seperti Prancis lebih memilih menjadi penonton pasif saat kepentingan global terancam. “Jika perang besar benar-benar terjadi, NATO tidak akan ada di sana untuk kita,” tegasnya.

Milad 117 H Muhammadiyah

Lebih jauh, Trump keluar dari koridor politik dan menyerang kehidupan pribadi Macron dengan merujuk pada video viral dari Mei 2025 yang memperlihatkan wajah Macron didorong istrinya, Brigitte saat berkunjung ke Vietnam. “Bagaimana kita bisa mengharapkan ketegasan di kancah internasional dari seseorang yang istrinya memperlakukannya dengan buruk?” sindir Trump. 

“Dia masih memulihkan diri dari ‘pukulan di rahang’ itu. Sulit mengharapkan dia bisa memegang kendali di dunia jika dia bahkan tidak bisa memegang kendali di meja makannya sendiri.”

Pernyataan Trump segera memicu reaksi beragam. Namun bisa dipahami bila Istana Élysée bereaksi keras. Kamis (2/4/2026), Macron akhirnya memberikan tanggapan dari Paris. Dengan nada dingin, Macron menyebut komentar Trump “tidak elegan” dan “tidak sesuai standar” seorang pemimpin negara.

“Dunia sedang mendiskusikan masa depan, orang-orang sekarat di medan perang, dan kita memiliki presiden (Trump) yang malah mengejek kehidupan pribadi orang lain. Ini bukan pertunjukan sirkus, ini soal stabilitas global,” tegas Macron.

Para pakar geopolitik menilai gaya diplomasi “personal” Trump ini adalah taktik bullying politik untuk menekan Prancis agar tunduk pada agenda AS di Timur Tengah. Namun, alih-alih merapat, serangan terhadap Brigitte Macron ini diprediksi justru akan semakin menjauhkan Paris dari lingkaran pengaruh Washington.

Penulis : Usman Andrianto

Diolah dari berbagai sumber

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This