4 Tahun Umam, Milestone Peradaban Islam dan Kerja Sama Indonesia–Malaysia

Must Read

JAKARTAMU.COM | Universiti Muhammadiyah Malaysia (Umam) menandai usia empat tahun perjalanannya sebagai institusi pendidikan tinggi yang lahir dari gagasan internasionalisasi gerakan Muhammadiyah. Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir menyampaikan bahwa keberadaan Umam tidak terlepas dari dukungan Kerajaan dan Mufti Perlis, serta Pemerintah Malaysia yang sejak awal membuka ruang kerja sama lintas negara bagi pengembangan dakwah pendidikan tinggi.

“Dengan berdirinya Umam di Perlis Malaysia terjalin pula hubungan erat antara bangsa serumpun yang memiliki kebudayaan yang sama yakni budaya Melayu. Sehingga Umam menjadi jembatan kebudayaan untuk terbangunnya peradaban Bangsa Serumpun yang berkemajuan dengan basis ajaran Islam di tengah dunia modern,” ujar Haedar dalam Peringatan Milad ke-4 Umam di Hotel Seri Malaysia, Kangar, Kamis (27/11/2025).

Baca juga: Pre-PhD Coaching UM Bandung-Umam Dukung Dosen ke Jenjang Doktoral

Haedar menjelaskan bahwa kelahiran Umam merupakan cita-cita besar Muhammadiyah untuk memperluas dakwah pendidikan tinggi ke tingkat global. Keragaman kedua negara, menurutnya, menjadi dasar kokoh untuk membangun ukhuwah islamiyah dan ukhuwah insaniyah yang memungkinkan kerja sama strategis terus tumbuh.

Milad 117 H Muhammadiyah

“Umam didirikan dengan proyeksi jauh ke depan sebagai salah satu tonggak pencapaian (milestone) peradaban Islam yang berkemajuan,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa sejak awal sejarahnya, Islam telah memainkan peran penting dalam perkembangan peradaban dan dinamika politik internasional.

Dalam pandangan Haedar, kesamaan kultur dan fondasi keagamaan membuat Indonesia dan Malaysia memiliki peluang besar untuk berkembang sebagai kawasan yang bergerak menuju taraf negara maju dengan karakter pembeda. Di hadapan berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat muslim global, kedua negara serumpun ini, ucap Haedar, memiliki modal sosial dan spiritual yang saling menguatkan.

“Kedua bangsa tersebut memiliki kesamaan di mana Islam menjadi kekuatan utama yang dianut oleh mayoritas penduduknya. Islam bukan hanya sebagai agama yang mengandung ajaran keimanan kepada Allah dan himpunan ritual ibadah, tetapi suatu agama yang mengajarkan nilai-nilai keadaban dan kemajuan hidup di berbagai bidang muamalah sebagai rahmat bagi semesta alam,” kata Haedar.

Baca juga: Milad Ke-113 Muhammadiyah Pamerkan Inovasi dan Teknologi untuk Kesejahteraan

Ia juga meyakini bahwa Indonesia dan Malaysia dapat menjadi contoh pengembangan pendidikan yang menghasilkan generasi ulul albab, yaitu—generasi yang memadukan kecerdasan spiritual, moral, dan intelektual. Konsep generasi ini, menurut Haedar, memberi alternatif karakter keilmuan yang berbeda dari pola yang berkembang di masyarakat Barat.

“Lebih jauh, Islam dan umat di kedua bangsa serumpun itu dapat menjadi bangsa bertipologi Khayra Ummah. Yang salah satu cirinya menjadi Ummatan Wasatha yang selalu hadir menjadi saksi sejarah bagi kehidupan umat manusia, syuhadaa ‘ala al-nas, yang membawa rahmat bagi semesta alam,” tegasnya.

Di dalam pembangunan peradaban tersebut, Haedar melihat institusi pendidikan sebagai pilar utama. Pendidikan Islam, ungkapnya, harus dapat menghadirkan pendekatan holistik yang mengintegrasikan iman, akhlak, dan kemajuan sebagai substansi utamanya. “Harapan Muhammadiyah agar UMAM hadir sebagai lembaga pendidikan tinggi yang unggul dan berkemajuan,” tandasnya.

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This