SETIAP akhir tahun Masehi, belahan dunia barat memasuki musim salju. Sunyi, dingin, dan manusia dipaksa menyiapkan diri menghadapi cuaca yang menggigit. Di belahan timur, terutama di ujung timur yang sering kita sebut tanah air, hujan justru turun tanpa jeda, membawa serta berbagai akibat yang berulang dari tahun ke tahun.
Masih lekat dalam ingatan musibah tsunami raksasa di Sumatera dan kawasan Indonesia Timur. Tsunami dalam skala lebih kecil juga pernah menghantam wilayah lain seperti Yogyakarta dan Tanjung Lesung. Desember kerap berubah menjadi bulan yang muram, bagi mereka yang terdampak langsung maupun bagi yang hanya menyaksikan dari halaman koran, layar televisi, dan linimasa media sosial.
Media sosial memang rawan kabar palsu dan manipulasi, tetapi persoalannya bukan semata soal itu. Ada realitas yang tak bisa dihindari tentang posisi geografis negeri ini—tanah subur, gugusan pulau indah di garis khatulistiwa yang tropis, sekaligus rentan. Jepang yang rapi, disiplin, dan indah pun tak luput dari gempa dan tsunami. Dua sisi yang selalu dinikmati dan sekaligus ditanggung.
Di atas fakta alam yang berulang itu, sering kali ditaburkan pula kesalahan manusia. Menteri ini dan itu dijadikan sasaran, seolah tempat pembuangan bersama. Kadang presiden dibiarkan, kadang justru dijadikan target utama. Saya masih ingat, saat Aceh diterjang tsunami, ada tetangga yang buru-buru mengaitkannya dengan singkatan nama presiden kala itu, dipelintir menjadi ejekan bernada serangan.

Begitulah risiko menjadi pelayan publik, apalagi yang memegang kekuasaan. Kemasyhuran datang beriringan dengan limpahan umpatan. Itu memang konsekuensi logis, raison d’etre dari jabatan yang dipilih atau diterima.
Tak mengherankan jika hari-hari ini ada menteri yang kelabakan, bereaksi berlebihan, bahkan sampai meminta tim medianya disingkirkan. Ia berkeliling mencari dukungan; keluarganya pun ikut mondar-mandir. Kesalahan memang ada, tetapi persoalannya tidak sesederhana menunjuk satu orang sebagai biang. Linimasa dibanjiri framing dari pihak-pihak yang mencuci tangan, melempar lumpur, dan membangun citra buruk hanya pada satu figur. Kepemimpinan kolektif menghilang saat musibah datang, tetapi ketika ada keberhasilan, semua berlomba mengaku.
Saya—mungkin juga Anda—tak sepenuhnya bebas dari kegemaran mencari-cari kesalahan. Kita sibuk memperbesar kuman di seberang, sementara gajah di depan mata sendiri luput disadari.
Sisi manusiawi ini memang tak bisa dihentikan dengan sekadar rambu normatif, entah itu istilah su’udzon atau husnudzon yang terdengar saleh. Agama kerap diseret untuk menutup ruang pencarian fakta. Tuhan seakan dibebani seluruh tanggung jawab, sementara manusia berlindung di balik tafsir takdir yang fatalistik.
Padahal, elaborasi masalah adalah keharusan. Bersamaan dengan itu, pengelolaan simpati dan empati perlu diterjemahkan menjadi aksi yang terkoordinasi. Sayangnya, yang sering muncul justru hujan kata-kata: “siap”, “izin, Pak”, dan berbagai ungkapan birokratis lain. Tak sedikit pula lembaga yang mengatasnamakan swadaya masyarakat, tetapi lebih sibuk mencari keuntungan, bahkan tampil intimidatif dengan aroma koruptif.
Terhadap musibah yang sedang dan telah terjadi, tulisan dan gambar beredar dalam berbagai bentuk di jejaring maya, sarat muatan pro dan kontra. Sikap yang diperlukan sebenarnya sederhana: sebarkan informasi yang benar, lalu segera bergerak mengeksekusi apa yang bisa dilakukan untuk meringankan dampak bencana.
Jika drama bermunculan hanya untuk mencabik emosi, anggap saja seperti permainan layang-layang. Ada layang-layang putus, diperebutkan, lalu dirobek bersama. Pertanyaannya, apakah kita ingin berhenti di situ—menjadi layang-layang putus sekaligus pemburunya?
Di situlah kebencian direproduksi tanpa henti. Itulah salah satu wajah kita di media sosial.
Sejak sekitar 2010-an, pasukan buzzer mulai tersusun rapi, bekerja di ruang maya dengan anggaran yang tak pernah benar-benar transparan. Kita semua berlayar di kapal virtual, tempat setiap orang bebas menulis, bersembunyi, atau disembunyikan. Di sana, ajakan demonstrasi, lukisan emosi, hingga produksi kabar bohong dan pembalikan fakta bisa dipesan, dibiayai, dan dikerjakan oleh siapa saja—dari yang muda hingga yang lanjut usia.
Saya yang lebih dulu memasuki usia lansia hanya bisa berharap, semoga kita tetap mampu merawat kesehatan, menjaga syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa—Allah Subhanahu wa Ta’ala—atas karunia yang tak terhitung sejak dulu, kini, dan hingga batas akhir kehidupan yang fana ini.
Suka atau tidak suka, kita sedang berada di dalam permainan dunia itu. Tetaplah sehat jiwa, raga, dan sosial. Ayo bergerak! (*)


