JAKARTAMU.COM | Hari belum begitu terik ketika para kader Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) mulai berdatangan ke di SMK Muhammadiyah 5 Jakarta pada Minggu (21/12/2025). Dari ruang kelas yang biasanya terdengar aktivitas belajar, kali ini terlantun lagu Indonesia Raya dan Mars Muhammadiyah yang bersemangat.
Pagi itu, sekitar 20 peserta yang merupakan kader ranting IPM se-Tanah Abang mengikuti Pelatihan Jurnalistik dan Desain Media Sosial dengan narasumber Muhibudin Kamali dan Usman Andrianto dari Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) PWM DKI Jakarta. Dalam dua sesi berbeda, kegiatan yang dihelat Pimpinan Cabang IPM Tanah Abang I menyajikan materi berlapis tentang dasar-dasar jurnalistik seperti mengenal jenis berita, apa itu nilai berita, penulisan berita dengan struktur piramida terbalik, hingga bagaimana membuat konten media sosial dari sebuah berita.
Peserta tampak mendengarkan penjelasan pemateri dengan saksama. Namun ketika sesi tanya jawab dibuka, tak ada tangan yang terangkat, tak ada suara yang terdengar. Sesi pun berlanjut pada praktik penulisan mengenai kegiatan yang sedang mereka laksanakan. Sebagian peserta diminta menuliskan dengan gaya straight news dan sebagian lainnya diminta menulis dengan gaya feature.
Para peserta mulai saling pandang, sama-sama tidak terlalu yakin, atau jelasnya kebingungan bagaimana akan memulai menulis. Catatan dibuka kembali, draf ditulis lalu dihapus, sebagian peserta dengan suara pelan bertanya kepada panitia dengan ekspresi ragu.

Perbedaan antara straight news dan feature news menjadi soal yang paling sering muncul. Struktur yang sebelumnya dipaparkan ternyata belum sepenuhnya dipahami. Seorang peserta akhirnya memberanikan diri bertanya sambil menunjukkan tulisannya. “Apa ini ditulis dengan piramida terbalik, Kak?” tanyanya.
Panitia pun tersenyum sembari meminta peserta untuk tetap menulis sesuai dengan apa yang mereka pahami. Setelah sekitar 30 menit, barulah penjelasan diulang lebih gamblang, kali ini dengan membedah langsung tulisan peserta. Kalimat pertama diperiksa, fakta disusun ulang, lalu dibandingkan dengan contoh feature yang lebih bercerita. Dari situ diskusi mengalir.
Momen itu menjadi titik balik suasana pelatihan. Kelas yang semula pasif berubah menjadi ruang belajar yang hidup. Peserta mulai memahami bahwa straight news menuntut ketegasan fakta, susunan kalimat yang ringkas dan lugas. Sebaliknya feature memberi ruang lebih bebas untuk bernarasi, bahkan sedikit opini dan memberikan warna tulisan dengan. konteks.
Ketua Pelaksana Pelatihan Jurnalistik PC IPM Tanah Abang I, Wahyu Agus Ramdhani, menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang untuk merespons perubahan cara pelajar berhadapan dengan informasi. Arus konten digital bergerak cepat, sementara kemampuan memilah, memverifikasi, dan menyusun informasi belum selalu berjalan seiring.
“Kemampuan dasar jurnalistik dan desain media sosial sudah menjadi kebutuhan dasar bagi kader IPM,” kata Wahyu. Menurut dia, kader pelajar perlu dibekali kemampuan peliputan, penulisan, dan penyuntingan agar tidak terjebak menjadi penyebar informasi yang keliru.
Ketua Umum PC IPM Tanah Abang I, Muhamad Saddam P, menilai pelatihan ini sebagai upaya menyiapkan kader pelajar yang mampu berinteraksi dengan media secara sadar. Media, menurutnya, perlu dipahami sebagai alat dakwah, edukasi, dan pemberdayaan, yang menuntut tanggung jawab etis.
“Melalui pelatihan ini, kami berharap kader pelajar mampu menggunakan media secara cerdas dan beretika di ruang digital,” ujar Saddam.


