Akibat Cinta yang Terlalu Manis dari Si Mbah

Must Read

BUKAN rahasia lagi, kakek atau nenek umumnya lebih sayang pada cucunya, ketimbang anak mereka sendiri. Semua keinginan cucu seolah mendapat karpet merah di rumah kakek dan nenek. 

Apa yang tidak boleh di rumah kakek dan nenek? Hampir semuanya boleh. Segelas es krim diizinkan sebelum makan, mainan baru bisa diperoleh tanpa diminta. Bahkan jam tidur bisa bergeser sesuka hati. “Namanya juga cucu,” begitu alasan yang paling sering terdengar. 

Tetapi yang jarang disadari adalah dampaknya terhadap karakter anak. Sang anak yang pelan-pelan kehilangan daya juang. Fenomena ini disoroti oleh Prof. Suyanto, anggota Dewan Pakar Majelis Dikdasmen dan Pendidikan Nonformal PP Muhammadiyah, dalam forum Peningkatan Kapasitas Praktik Baik Sekolah/Madrasah dalam Mengoptimalkan Growth Mindset dan Pembelajaran Mendalam yang digelar di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu (15/10/2025). 

“Yang pertama kali merusak karakter cucunya adalah mbah-nya sendiri,” katanya. 

Milad 117 H Muhammadiyah

Menurut mantan Rektor Universitas Negeri Yogyakarta itu, pola asuh kakek dan nenek yang terlalu permisif menjadi akar munculnya sikap manja pada anak. “Kalau sudah sama mbah kakung dan mbah putri, semuanya jadi serba boleh,” ujarnya.

Anak yang terbiasa dilayani untuk setiap keinginannya, tambahnya, akan kehilangan kemampuan untuk berusaha. Ia tumbuh dengan keyakinan bahwa segala sesuatu bisa datang tanpa kerja keras. Dalam jangka panjang, kebiasaan itu menumpulkan rasa tanggung jawab dan menjauhkan mereka dari kemandirian.

Dalam paparannya, Prof. Suyanto mengaitkan hal tersebut dengan konsep growth mindset dan The Pygmalion Effect. Teori ini menjelaskan bagaimana ekspektasi seseorang bisa memengaruhi perilaku orang lain hingga sesuai dengan keyakinan awal.

Jika orang tua atau kakek-nenek terlalu sering menempelkan label negatif seperti “dasar anak nakal” atau “dasar anak bodoh”, maka anak bisa benar-benar tumbuh sesuai kata-kata itu. Sebaliknya, ucapan positif dan kepercayaan bahwa anak mampu akan memperkuat rasa percaya diri dan dorongan untuk belajar.

Efek ini pertama kali dijelaskan oleh Rosenthal, seorang psikolog Yunani yang meneliti bagaimana keyakinan dan persepsi orang tua mampu membentuk kenyataan dalam perilaku anak. Di tangan Prof. Suyanto, teori itu menjadi refleksi praktis tentang bagaimana keluarga—terutama generasi kakek dan nenek—perlu menata ulang bentuk kasih sayang mereka. Bukan dengan menuruti semua keinginan cucu, melainkan dengan memberi ruang bagi anak untuk belajar menunggu, berusaha, dan menghargai proses.

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This