WAKTU baru menunjukkan pukul enam lewat sedikit ketika para peserta milad ke-113 Muhammadiyah dari berbagai wilayah Jakarta mulai berdatangan. Sebagian masih melepas jaket, sebagian lain mencari tempat duduk.
Tetapi tenda kecil Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Pejagalan di jajaran stan bazar yang disediakan panitia sudah lebih dulu menjadi titik singgah. Antrean pelan tapi teratur mulai terbentuk di salah satu tenda paling selatan kawasan Perguruan Muhammadiyah Kramat, Minggu (23/11/2025).
Meja lipat, termos besar, dan kantong es tertata berdampingan. Sejumlah pengurus ranting mempersilakan peserta yang singgah untuk mengambil cup berisi teh dan kopi yang telah disediakan secara cuma-cuma. Ada yang ingin bersantai menghabiskan minuman tapi tak sedikit yang membawanya, berlalu menyusuri barisan bazar masuk ke dalam Gedung Dakwah Muhammadiyah, tempat acara utama berlangsung.
Baca juga: Perayaan Milad di Jakarta Membeludak, Tahun Depan Bakal Digelar di GBK


Matahari terus meninggi dan “aroma” kopi gratis dari tenda PRM Pejagalan kian menghipnotis. Orang berdatangan nyaris tanpa jeda. Di sisi lain gedung, panitia masih mempersiapkan panggung tempat Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti akan berbicara. Namun tenda kecil ini sudah berlangsung ramai sejak pagi hingga selesainya acara.
“Buat jaga mata tetep melek,” celetuk salah satu peserta milad sambil tersenyum membawa sebuah cup kecil kopi.
Selama sekitar enam jam, dua ribu cup ukuran sedang dan kecil tersalurkan. Sepuluh galon air, enam kilogram gula, serta enam karung es habis seluruhnya. Para pengurus bekerja bergantian, sesekali mengisi kembali air panas atau memecah es batu, memastikan antrean tetap bergerak.
Baca juga: Milad Ke-113 dan Tugas Besar Muhammadiyah
Ketua PRM Pejagalan, Sonhaji, mengatakan kegiatan ini lahir dari semangat para pengurus untuk terlibat dalam perayaan milad dengan cara yang efektif dan langsung dirasakan pengunjung. “Kegiatan ini adalah buah dari keinginan kuat para pengurus yang didukung sejumlah donatur. Kami bergerak karena ingin memberi layanan kecil tapi dibutuhkan,” ujarnya.
Sonhaji menyebut aktivitas seperti ini dapat menjadi ruang belajar bagi pengurus ranting dalam merancang kegiatan yang menyentuh langsung warga. “Kalau pengurus melihat manfaatnya, saya berharap mereka makin aktif membuat program yang dekat dengan kebutuhan jamaah,” katanya.
Ketika sesi utama dimulai dan peserta mulai memusatkan perhatian ke Gedung Dakwah Muhammadiyah, antrean di tenda PRM Pejagalan tetap terbentuk secara berkala. Sebagian mengambil minuman dingin setelah duduk lama di dalam ruangan, sebagian lainnya mampir sebelum pulang. Tenda kecil PRM Pejagalan siaga sejak awal acara berakhir. (*)


