JAKARTAMU.COM | Transformasi digital masih dipersepsikan sebagai ancaman bagi tenaga kerja terdidik. Otomatisasi dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dituding bakal menggantikan banyak peran profesional, termasuk insinyur.
Hermawan Kartajaya, pendiri MarkPlus, Inc berpendapat, manusia dan teknologi tidak saling berhadapan. Manusia tidak boleh digantikan teknologi, tetapi harus diperkuat olehnya. Dia memperkenalkan konsep “Augmented Human”, manusia yang kapasitasnya diperluas melalui integrasi teknologi.
“Teknologi menghasilkan opsi. Manusialah yang menentukan relevansi dan arah,” ujarnya Dalam forum Youth Leadership Camp 8 IKA ITS PW Jakarta Raya, Sabtu (14/2/2026),
Pada sesi bertajuk From Engineer to Value Creator: Personal Branding & Leadership in the Age of AI, Hermawan mengatakan kompetensi teknis tidak lagi memadai untuk menjadi pembeda utama dalam kepemimpinan. AI mampu menghasilkan ide secara masif, mengoptimalkan proses, menghitung probabilitas dengan presisi, serta mengotomasi pekerjaan rutin. Nilai tambah manusia terletak pada kemampuan memilih, memaknai, dan menetapkan visi.

Gagasan tersebut selaras dengan pemikirannya dalam sejumlah karya, antara lain Entrepreneurial Marketing dan Reimagining Operational Excellence yang ia tulis bersama Philip Kotler dan kolega. Dalam kerangka itu, keunggulan profesional ditentukan oleh kapasitas menciptakan nilai, bukan sekadar menjalankan fungsi teknis.
Omnihouse Model dalam perspektif pemasaran kewirausahaan, kata Hermawan, menempatkan organisasi sebagai “rumah nilai”. Fondasinya merupakan integrasi penciptaan nilai, kepemimpinan, keunggulan operasional, dan relevansi pelanggan. Organisasi yang hanya berorientasi pada output—produktivitas, target, dan efisiensi—berisiko kehilangan arah strategis jika fondasi nilai tidak diperkuat.
Pergeseran Paradigma
Bagi profesional muda, kerangka tersebut menjadi pengingat bahwa karier tidak berhenti pada capaian individu. Posisi seseorang diukur dari kontribusinya dalam sistem penciptaan nilai yang lebih luas.
Dalam konteks keunggulan operasional, Hermawan mengulas konsep QCDS (Quality, Cost, Delivery, Service). Ia menyebut efisiensi saja tidak cukup. Keunggulan operasional harus diintegrasikan dengan kreativitas, inovasi, kewirausahaan, kepemimpinan, serta perbaikan berkelanjutan. Profesional muda didorong berani mengusulkan inovasi proses, membaca peluang pasar, menjaga kualitas layanan, dan mengelola biaya secara strategis.
Konsep Augmented Human yang menjadi inti paparannya memuat delapan pergeseran paradigma: kreativitas melampaui produktivitas, inovasi melampaui perbaikan, kewirausahaan melampaui profesionalisme, kepemimpinan melampaui manajemen, peningkatan mutu berkelanjutan, optimalisasi biaya yang strategis, percepatan berbasis waktu, serta peningkatan kualitas layanan. “AI dapat menghitung biaya dan memprediksi permintaan, tetapi keputusan strategis tetap berada pada manusia,” kata Hermawan.
Pesan tersebut dinilai relevan bagi generasi muda berlatar belakang teknik. Pendidikan teknik membekali kemampuan pemecahan masalah, sementara kepemimpinan menuntut kemampuan merumuskan masalah dan menentukan arah organisasi.


