Citra Satelit Ungkap Pembantaian Massal di El Fasher Sudan

Must Read

JAKARTAMU.COM | Citra satelit terbaru mengungkap indikasi pembantaian massal di Kota El Fasher, Sudan, menyusul jatuhnya kota tersebut ke tangan kelompok paramiliter Rapid Support Forces (RSF). Temuan ini memicu kekhawatiran akan eskalasi kekerasan yang semakin brutal di wilayah Darfur.

Laporan dari Laboratorium Penelitian Kemanusiaan Universitas Yale yang dirilis Jumat (31/10/2025) menyebutkan bahwa dalam lima hari terakhir, citra satelit menunjukkan keberadaan setidaknya 31 kelompok objek yang konsisten dengan tubuh manusia di berbagai titik kota. Lokasi penemuan mencakup area permukiman, halaman kampus, dan kompleks militer.

“Indikator bahwa pembunuhan massal terus berlanjut terlihat jelas,” tulis laporan tersebut, menegaskan bahwa kekerasan tidak berhenti meski kota telah dikuasai RSF sejak Minggu (26/10/2025) setelah pengepungan selama 18 bulan.

Sejak pengambilalihan El Fasher, laporan kekejaman terus bermunculan. Warga sipil dilaporkan mengalami eksekusi di tempat, kekerasan seksual, penjarahan, penculikan, hingga serangan terhadap pekerja kemanusiaan. Komunikasi yang terputus di wilayah tersebut menyulitkan verifikasi informasi secara menyeluruh.

Milad 117 H Muhammadiyah
Foto/reuters

Anak-anak Ditembak di Depan Orang Tua

Warga yang berhasil melarikan diri ke kota Tawila memberikan kesaksian mengerikan. Seorang ibu bernama Hayat, yang melarikan diri bersama lima anaknya, mengaku rombongannya dicegat oleh anggota RSF di jalan. “Para pemuda yang bepergian bersama kami dicegat. Kami tidak tahu apa yang terjadi pada mereka,” ujarnya kepada AFP.

Beberapa pengungsi menyebut anak-anak ditembak di hadapan orang tua mereka, sementara warga lainnya dipukuli dan dirampok saat mencoba menyelamatkan diri.

Menurut data PBB, lebih dari 65.000 orang telah mengungsi dari El Fasher. Namun, puluhan ribu lainnya masih terjebak di kota yang sebelumnya dihuni sekitar 260.000 jiwa.

PBB Ragukan Komitmen RSF

RSF menyatakan telah menangkap sejumlah anggotanya yang dituduh melakukan pelanggaran. Namun, Kepala Koordinasi Kemanusiaan PBB, Tom Fletcher, menyatakan keraguan terhadap keseriusan kelompok tersebut dalam menyelidiki dugaan kejahatan.

Baik RSF maupun tentara Sudan sama-sama dituduh melakukan kejahatan perang selama konflik yang telah berlangsung sejak April 2023. Dengan direbutnya El Fasher, RSF kini menguasai seluruh ibu kota negara bagian di Darfur, sementara kekuatan militer pemerintah masih bertahan di wilayah utara, timur, dan tengah Sudan, membelah negara itu secara de facto.

Situasi ini menambah daftar panjang tragedi kemanusiaan di Sudan, yang hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Dunia internasional diharapkan segera mengambil langkah konkret untuk menghentikan kekerasan dan melindungi warga sipil yang masih terjebak di zona konflik.

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This