KETIKA masih belajar di SMP Muhammadiyah Delanggu, Klaten (1969–1971), saya membaca sebuah roman sejarah tentang Pangeran Diponegoro. Buku itu berjudul Pangeran Diponegoro Berjuang yang disusun oleh Sagimun MD. Isinya menarik dan mampu bersaing dengan pelajaran sejarah yang diajarkan oleh guru sejarah kami yang hebat: Pak Suparto. Beliau beragama Kristen, keturunan Indo, dan tinggal di Dusun Kragan, Desa Delanggu, di sekitar lokasi pabrik karung goni terbesar se-Asia Tenggara.
Pelajaran Sejarah, Ilmu Bumi, dan Bahasa Inggris selalu menjadi mata pelajaran favorit saya. Nilai saya untuk ketiganya selalu di atas 8. Bahkan ketika ujian negara, nilai Sejarah dan Ilmu Bumi masing-masing 9, sedangkan Bahasa Inggris 10. Di seluruh eks-Karesidenan Surakarta, hanya tiga siswa yang mendapat nilai 10 untuk Bahasa Inggris, termasuk saya — murid SMP Muhammadiyah yang bangunannya berdinding setengah tembok dan kayu, dengan sekat kelas dari anyaman bambu.
Selain gemar mengikuti pelajaran sejarah, saya juga menjadi anggota perpustakaan swasta “ANDA” yang terletak dekat stasiun kereta api. Para anggota dapat membaca dengan cara menyewa buku atau komik selama sepekan dengan membayar uang sewa, di samping uang pangkal dan iuran bulanan.
Membaca novel sejarah karya Sagimun MD itu memberi saya pengetahuan tentang keberanian dan kepahlawanan Pangeran Diponegoro dalam melawan penjajah Belanda yang disokong empat kerajaan — Kasunanan dan Mangkunegaran di Surakarta, serta Kasultanan dan Pakualaman di Yogyakarta. Saya merasa bangga membaca kisah gempuran pasukan Diponegoro pada Juli 1826 yang berhasil merebut Delanggu sebagai pintu masuk menuju kawasan Pajang (Surakarta).

Kemenangan demi kemenangan pasukan Diponegoro di wilayah Klaten hingga Surakarta tidak lepas dari dukungan pasukan santri Kiai Mojo dari Jatinom, Klaten, yang dikomandani oleh Ali Basyah Sentot Prawirodirjo. Bersama kedua sekutunya yang masing-masing berasal dari Klaten dan Madiun, Diponegoro mencapai puncak kemenangan pada 1827.
Namun saya merasa sedih ketika membaca bagian kekalahan Diponegoro di Gawok, sekitar 10 kilometer tenggara Surakarta. Dalam pertempuran itu, pasukan Diponegoro dikeroyok oleh gabungan pasukan Belanda, Legiun Mangkunegaran, dan pasukan setengah hati dari Kasunanan Surakarta. Saat itu, Kasultanan Yogyakarta dipimpin oleh Sultan HB III yang masih berusia sembilan tahun — adik tiri Pangeran Diponegoro. Sementara itu, Kasunanan Surakarta dipimpin oleh Sunan Pakubuwono VI dan Mangkunegara II.
Karena sikap setengah hati dan dukungan rahasia Pakubuwono VI terhadap Jenderal De Kock yang bermarkas di Solo, akhirnya sang raja ditangkap dan diasingkan oleh Belanda. Pakubuwono VI kemudian dikenang sebagai pahlawan, dan namanya diabadikan sebagai nama jalan di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Rumor dalam buku Sagimun MD — dan pernah pula ditulis Gunawan Mohammad dalam Catatan Pinggir majalah Tempo — menyebut bahwa salah satu sebab kekalahan Diponegoro adalah ulah seorang tukang pijat wanita keturunan Tionghoa yang diselundupkan Belanda.
Ketika pasukan Diponegoro porak-poranda di kawasan Pajang, sang pangeran memutuskan mundur ke wilayah Klaten. Sekitar tiga pekan lamanya, Diponegoro dan pasukan pengawal elitenya, kompi Janisari (pasukan khusus yang meniru model Kesultanan Utsmani di Turki), berkemah di Dusun Koripan, Delanggu.
Di daerah ini pula senjata-senjata pasukan Diponegoro diproduksi. Tradisi kerajinan logam itu masih lestari hingga kini, dan salah satu tokoh yang dikenal dalam sejarahnya adalah Mpu Supa, yang makamnya berada di Desa Pengging, Kecamatan Banyudono, Boyolali — sekitar 12 kilometer dari Delanggu.
Sementara itu, sebagian pasukan lainnya bergerak ke Jatinom dan, sejak 1828, terus mengalir ke Kulonprogo hingga Bagelen, Purworejo. Dalam dua tahun terakhir perang (1825–1830), Kiai Mojo akhirnya tertangkap dan dibuang ke Menado, disusul Ali Basyah Sentot Prawirodirjo yang diasingkan ke Bengkulu.
Selama masa itu pula Belanda membangun ratusan benteng stelsel di sepanjang Purworejo–Magelang–Salatiga–Yogyakarta–Purwodadi–Surakarta hingga Madiun. Desa-desa yang mendukung perjuangan Diponegoro dibakar dan diduduki. Setiap benteng dijaga satu kompi pasukan gabungan antara Belanda, empat kerajaan eks-Mataram, dan penduduk setempat.
Puncak kegusaran datang ketika Diponegoro ditangkap dalam perundingan di Magelang pada 23 Maret 1830, bertepatan dengan bulan Ramadan. Ia kemudian diasingkan ke Menado, sebelum dipindahkan ke Makassar hingga akhir hayatnya. Pangeran Diponegoro — tokoh Kasultanan Yogyakarta yang bermoral tinggi dan gigih — wafat pada 8 Januari 1855 di usia 69 tahun, dan dimakamkan di Makassar.
Perang Jawa (1825–1830) merupakan perang besar terakhir di tanah Jawa sejak serangkaian suksesi Mataram (Suksesi I, II, dan III, dari akhir 1600-an hingga 1755–1757) yang berujung pada perpecahan menjadi empat kerajaan. Masa itu ditandai oleh dekadensi kekuasaan, korupsi, kemerosotan moral, dan pemungutan pajak yang tinggi.
Diponegoro menjadi simbol perlawanan terhadap Belanda di Indonesia — kekuatan kolonial yang menjalin kerja sama erat dengan penguasa lokal sesama bangsawan Jawa. Dengan demikian, penjajahan yang sesungguhnya bukan semata datang dari pihak asing yang jauh, melainkan juga dari kepentingan yang saling berebut di antara penguasa Jawa sendiri.
VOC, organisasi dagang yang menjadi cikal bakal kekuasaan Belanda, didirikan di Ternate pada 1602, kemudian memindahkan pusatnya ke Batavia sebelum akhirnya bubar pada 1800. Sejak itu, Belanda meneguhkan diri sebagai entitas pemerintahan bersenjata yang bekerja sama dengan elite lokal di Jawa.
Begitulah keberanian dipertaruhkan demi sebuah arti hidup — sebagaimana digambarkan Chairil Anwar dalam puisinya Diponegoro:
Sekali berarti
Sudah itu mati.
Maju
Bagimu negeri
Menyediakan api.


