JAKARTAMU.COM | Gencatan senjata yang diharapkan mampu membawa ketenangan permanen di Jalur Gaza nyata-nyata tidak berguna. Sabtu (21/2/2026), dua warga Palestina tewas akibat serangan pesawat nirawak (drone) militer Israel yang menyasar titik di utara dan selatan kantong permukiman warga sipil.
Kantor berita resmi Palestina, WAFA, melaporkan, serangan pertama terjadi di kamp pengungsi Jabalia, utara Gaza. Sementara serangan kedua menghantam area Qizan al-Najjar, di selatan Khan Younis. Sumber medis setempat mengonfirmasi bahwa kedua korban meninggal dunia di lokasi kejadian akibat luka parah yang diderita.
Insiden ini menambah panjang daftar korban jiwa di tengah situasi keamanan yang kian rapuh. Meski upaya diplomatik untuk menjaga stabilitas terus diupayakan pasca-gencatan senjata pada 11 Oktober lalu, realitas di lapangan menunjukkan gambaran yang berbeda.
Baca juga: Ribuan Jemaah di Al-Khalil Mengadu Nyawa, Bersujud di Masjid yang Terbagi

Data terbaru menunjukkan, sejak dimulainya periode gencatan senjata tersebut, jumlah warga Palestina yang tewas telah mencapai 614 jiwa. Selain itu, sedikitnya 1.640 orang mengalami luka-luka, sementara 726 jenazah lainnya berhasil dievakuasi dari reruntuhan bangunan di berbagai penjuru Gaza.
Ketegangan tidak hanya terjadi di Gaza. Di Tepi Barat, eskalasi serupa juga dilaporkan meningkat. Pada saat yang hampir bersamaan, otoritas Israel dilaporkan menutup akses utama menuju kota-kota di wilayah Ramallah dan menyita puluhan kendaraan milik warga Palestina di Yerusalem dengan alasan rencana pembongkaran bangunan.
Meningkatnya intensitas serangan ini memicu kekhawatiran internasional akan runtuhnya kesepakatan damai yang masih seumur jagung. Sekretaris Jenderal PBB pun telah melayangkan kecaman keras terhadap kekerasan yang terus berlanjut, terutama yang menyasar warga sipil, dan mendesak dilakukannya investigasi menyeluruh atas rentetan insiden maut ini.


