GEMA takbir dan lantunan doa menyelinap di antara celah barikade beton dan pos pemeriksaan militer di Kota Tua Al-Khalil (Hebron), wilayah selatan Tepi Barat yang diduduki. Pada Jumat pertama bulan suci Ramadan (20/2/2026), ribuan warga Palestina membuktikan bahwa keyakinan sering kali lebih kokoh ketimbang pembatasan fisik. Mereka memenuhi Masjid Ibrahimi, meski harus melewati pemeriksaan ketat otoritas keamanan Israel.
Moataz Abu Sneineh, Imam Besar Masjid Ibrahimi, mengisahkan bagaimana ibadah kali ini penuh dengan rintangan. Sejak fajar menyingsing, pasukan keamanan Israel (IOF) hanya membuka satu pintu akses menuju kompleks masjid. Kebijakan ini memicu antrean panjang dan kepadatan yang menyesakkan di gerbang masuk.
“Akses sangat dibatasi. Bahkan tim ambulans pun dilaporkan terhambat untuk mencapai lokasi,” ujar Abu Sneineh. Ia menambahkan, setelah sejumlah kecil jemaah diizinkan masuk, petugas segera menutup pintu gerbang, membiarkan ratusan orang lainnya tertahan di luar, di sekitar area pasar Kota Tua.
Luka Sejarah yang Belum Pulih
Masjid Ibrahimi bukan hanya titik temu doa, melainkan saksi sejarah yang menunjukkan betapa dalam tembok pemisah membelah kehidupan warga di sana. Sejak tragedi pembantaian tahun 1994, saat seorang pemukim ekstremis Israel melepaskan tembakan dan menewaskan 29 jemaah, otoritas Israel membagi kompleks masjid tersebut. Saat ini, 63 persen area dikuasai untuk kepentingan jemaah Yahudi, sementara umat Muslim hanya diberikan akses atas 37 persen sisanya.

Umat Islam hanya diizinkan menggunakan seluruh area masjid sebanyak sepuluh hari dalam setahun, termasuk pada hari-hari besar seperti Jumat di bulan Ramadan, Lailatul Qadar, serta Idul Fitri dan Idul Adha. Ketimpangan akses inilah yang membuat kehadiran ribuan warga pada Jumat lalu menjadi simbol perlawanan pasif sekaligus penjagaan terhadap identitas religi mereka.
Ketegangan yang Meluas
Situasi di Hebron merupakan cerminan dari ketegangan yang lebih luas di seantero wilayah pendudukan. Di Yerusalem, kesepakatan status quo yang telah bertahan selama enam dekade di Masjid Al-Aqsa juga berada di bawah tekanan hebat. Laporan mengenai penangkapan seorang imam serta penggerebekan oleh kepolisian Israel saat shalat Isya di malam-malam awal Ramadan kian memanaskan suasana.
Sejumlah analis mengkhawatirkan konvergensi antara momentum Ramadan, ketegangan di Tepi Barat, dan konflik regional yang tengah berkecamuk. Tokoh-tokoh garis keras dalam kabinet keamanan Israel, seperti Menteri Keamanan Itamar Ben-Gvir, secara terbuka mendukung perubahan status quo di situs-situs suci, sebuah langkah yang secara historis sering menjadi pemantik gejolak besar.
Bagi warga Palestina, upaya memperketat akses dan mengurangi jumlah jemaah di masjid-masjid suci dianggap sebagai bagian dari agenda sistematis. Namun, seperti yang terlihat di Ibrahimi Jumat lalu, barisan saf yang tetap rapat di tengah kepungan militer menjadi pesan kuat bahwa spiritualitas tidak bisa sepenuhnya dibatasi oleh aturan keamanan.


