JAKARTAMU.COM | Di sebuah desa kecil di Kulon Progo, Yogyakarta, kabar duka menyelimuti keluarga besar Praka Farizal Romadhon. Prajurit muda itu gugur saat menjalankan tugas mulia sebagai pasukan penjaga perdamaian PBB di Lebanon. Bagi masyarakat sekitar, Farizal bukan sekadar prajurit TNI. Ia adalah anak bangsa yang membawa nama Indonesia di kancah internasional, sekaligus kader Muhammadiyah yang aktif menebarkan gagasan persyarikatan.
Farizal dikenal sederhana, ramah, dan penuh semangat. Di sela tugas militernya, ia rajin membagikan pesan-pesan keislaman melalui media sosial. Salah satu yang paling ia gaungkan adalah gagasan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), sebuah inisiatif Muhammadiyah untuk menyatukan umat Islam dalam penanggalan hijriah. Kehadirannya di dunia maya menjadi bukti bahwa seorang prajurit bisa sekaligus menjadi dai, menyuarakan nilai-nilai persyarikatan di tengah hiruk pikuk tugas negara.
Krisis Kemanusiaan Global
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, menyampaikan duka mendalam atas gugurnya Farizal. Dalam Silaturahmi Idulfitri di Universitas Muhammadiyah Jakarta pada Selasa (31/3/2026), Haedar menegaskan bahwa tragedi ini bukan hanya kehilangan bagi keluarga dan Muhammadiyah, tetapi juga cermin dari krisis kemanusiaan global.

“Perang yang terus berulang menunjukkan jalan buntu peradaban modern. Setelah Holocaust, dunia seharusnya tidak lagi menyaksikan genosida. Namun kenyataan berkata lain,” ujarnya.
Haedar menyoroti bahwa institusi hukum internasional tampak tak berdaya menghentikan konflik. Dunia, katanya, semakin buas, di mana manusia justru menjadi ancaman bagi sesamanya.
Indonesia di Garis Depan Perdamaian
Indonesia selama ini dikenal sebagai salah satu negara dengan kontribusi besar dalam misi perdamaian PBB. Kehadiran prajurit TNI di Lebanon adalah bagian dari diplomasi Indonesia untuk menjaga stabilitas global. Gugurnya Farizal menjadi pengingat bahwa misi perdamaian bukanlah tugas ringan. Ada risiko besar yang harus ditanggung, bahkan nyawa.
Namun, di balik pengorbanan itu, ada kebanggaan. Farizal telah menorehkan jejak sebagai prajurit yang mengabdi bukan hanya untuk negara, tetapi juga untuk kemanusiaan.
Harapan di Tengah Duka
Meski dunia tampak gelap oleh konflik, Haedar tetap menyuarakan harapan. Muhammadiyah menyerukan agar masyarakat internasional tidak berhenti mencari jalan menuju perdamaian. “Kita harus terus berupaya membangun peradaban yang lebih manusiawi,” tegasnya.
Bagi Muhammadiyah, duka atas gugurnya Farizal adalah panggilan untuk memperkuat komitmen terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Kehilangan ini menjadi simbol bahwa perjuangan menegakkan perdamaian adalah tugas bersama, lintas bangsa dan agama.


