JAKARTAMU.COM | Perguruan Muhammadiyah Rawamangun, Jakarta Timur, menggelar pengajian pegawai dengan tema “Pembinaan Pegawai sebagai Kader Persyarikatan”, Minggu (28/9/2025). Pengajian ini diharapkan menjadi momentum pembinaan kader yang mampu mengintegrasikan profesionalisme kerja dengan nilai-nilai persyarikatan.
Hadir sebagai narasumber Dr. Harmonis, Ph.D, dosen (Associate Professor) pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ). Dalam pemaparannya, Harmonis menyebut pentingnya membentuk profil pegawai perguruan Muhammadiyah yang tidak hanya bekerja secara profesional, tetapi juga berperan sebagai kader yang berkhidmat untuk umat dan bangsa.
Baca juga: Baitul Arqam PCM Rawamangun Bekali Guru dan Karyawan Positif Bermedia Sosial
Seorang kader Muhammadiyah yang ideal, kata dia, minimal memiliki empat kompetensi pokok, yaitu keberagamaan, akademis dan intelektual, sosial kemanusiaan serta kepeloporan, dan keorganisasian serta kepemimpinan. Kompetensi keberagamaan, menurutnya, tercermin dari kemurnian aqidah, ketaatan beribadah, keikhlasan, kejujuran (shiddiq), amanah, dan semangat berjiwa gerakan.

“Kader Muhammadiyah harus jujur, amanah, serta memiliki komitmen kuat untuk berjuang menegakkan ajaran Islam melalui Persyarikatan,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya kompetensi akademis dan intelektual, yang meliputi kecerdasan berpikir (fathonah), pembaruan (tajdid), konsistensi (istiqomah), etos belajar, serta sikap moderat. Menurutnya, pegawai Muhammadiyah harus terus belajar, berpikir maju, dan menghasilkan karya yang bermanfaat.
Baca juga: Program Zepmu Diluncurkan di PCM Rawamangun
Sementara itu, kompetensi sosial kemanusiaan dan kepeloporan ditandai dengan kesalehan pribadi, kepedulian sosial, kegemaran beramal, keteladanan, kemampuan menyampaikan kebaikan (tabligh), inovatif, dan berpikiran maju. “Seorang kader harus mampu menjadi teladan dalam keluarga, masyarakat, dan lingkungan kerja, sekaligus membawa Muhammadiyah pada kemajuan,” tambahnya.
Terakhir, kompetensi keorganisasian dan kepemimpinan dipandang penting agar kader mampu berkhidmat dengan ikhlas, berprestasi, serta menjunjung tinggi ideologi Muhammadiyah. Harmonis menegaskan, “Kader harus menempatkan misi dan kepentingan Muhammadiyah di atas kepentingan lainnya, dengan sikap arif, tegas, dan penuh dedikasi,” katanya.


