TEPUK tangan berkali-kali membahana pada penutupan Kajian Ramadan ke-3 di Lapangan Ahmad Dahlan Sport Center, SMA Muhammadiyah 25 Setiabudi Pamulang, Selasa (25/2/2026). Satu per satu nama siswa dipanggil ke depan. Medali disematkan di hadapan ratusan pasang mata. Dua emas, tiga perak, dan satu perunggu, hasil perjalanan mereka dari OlympicAD VIII 2026 Makassar.
Ini merupakan ajang kompetisi akbar yang mempertemukan siswa dan guru Muhammadiyah dari seluruh Indonesia dalam berbagai cabang akademik dan nonakademik mulai sains, bahasa, seni, hingga robotika. Tahun ini, kontingen SMA Muhammadiyah 25 Setiabudi Pamulang membawa pulang enam medali, meningkat dua keping dibandingkan capaian tahun sebelumnya.
Dua medali emas menjadi sorotan. Patih Ano Jaga tampil sebagai juara cabang News Reading, sementara Fadhil Rafi Nakhlah meraih emas di bidang Fisika. Tiga medali perak disumbangkan Fayza Novellia (Kimia), Patih Keito (ISMU English), serta tim robotika Muhammad Gavin dan Nadhifa Aqilah Nur Ashila. Satu medali perunggu diraih Abdullah Hanif Aulia dari cabang Tilawatil Qur’an.
Tentu saja ada cerita dan harapan yang berjalan beriringan dari kompetisi tersebut.

“Saya melihat kemampuan peserta lain sangat baik. Saat nama saya diumumkan sebagai peraih medali emas, rasanya masih tidak percaya,” kata Patih Ano Jaga, salah satu siswa peraih medali.
Patih Ano berangkat ke Makassar tanpa target muluk-muluk. Namun demikian, latihan berbulan-bulan yang telah dilakukannya, cukup menjadi bekal untuk tampil percaya diri di panggung lomba.
Fadhil, siswa yang lain, merasakan hal yang hampir serupa. Dia sempat cemas atas hasil semifinal yang diperolehnya. Pun demikian pada babak final. Dari tujuh soal yang diberikan, ia hanya yakin pada jawaban dua soal. “Dari tujuh soal di final, awalnya saya hanya yakin pada dua soal saja. Sisanya saya pasrah, bismillah,” ujarnya.
Ia pun menambahkan, “Saya tidak terpikir untuk dapat emas. Seandainya pun saya paling dapat perunggu, itu pun sudah luar biasa.” Jawaban yang ia kerjakan dengan sisa keyakinan justru mengantarkannya ke podium tertinggi.
Persiapan yang Panjang
Sukses para siswa itu bertumpu pada kerja keras dan persiapan panjang. Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum sekaligus Ketua Kontingen, Zaky Anshari, M.M., menjelaskan bahwa persiapan OlympicAD dilakukan selama tiga bulan. Sekolah mengadakan seleksi internal, menyusun jadwal pendampingan intensif, dan memastikan pelatih mendampingi peserta secara konsisten.
Pendampingan berlanjut ketika lomba berlangsung. Guru-guru tetap memantau perkembangan siswa, baik di lokasi kompetisi maupun secara daring. “Dukungan sekolah menjadi bagian penting dalam membangun mental dan kesiapan mereka,” kata Zaky.
Perbandingan angka menunjukkan perkembangan yang jelas. Tahun lalu, sekolah ini membawa pulang empat medali. Tahun ini jumlahnya menjadi enam. Bagi pihak sekolah, kenaikan tersebut menjadi tanda tumbuhnya rasa percaya diri siswa dalam berkompetisi di tingkat nasional.
Kepala sekolah, Dr. Hartono, M.A., menyebut capaian ini sebagai hasil kerja bersama. “Medali yang diraih telah membuktikan bahwa kita mampu untuk berkompetisi. Teruslah berprestasi, buktikan bahwa kita bisa menjadi yang terbaik,” ujarnya.
Makassar kini tercatat sebagai kota yang menyimpan kenangan penting bagi para peraih medali. Di sana mereka menguji kemampuan, menghadapi keraguan, lalu pulang membawa hasil yang tak terduga. Sementara itu, halaman sekolah yang kembali tenang selepas seremoni menyimpan cerita baru. Enam keping medali telah menemukan tempatnya—bukan hanya di dada para siswa, tetapi dalam perjalanan SMA Muhammadiyah 25 Setiabudi Pamulang yang terus bergerak menyiapkan langkah berikutnya.
Penulis: Salman A. Ridwan


