JAKARTAMU.COM | Apa gunanya gencatan senjata di Gaza? Begitu pertanyaan yang berkecamuk di kepala banyak orang di dunia. Harapan bakal meredanya perang di Jalur Gaza pupus akibat serangan Israel yang ternyata tak berhenti meski telah ada kesepakatan gencatan senjata. Serangkaian serangan udara pasukan zionis pasca pengumuman gencatan senjata telah menewaskan dan melukai puluhan warga sipil Palestina.
Serangan terbaru dilaporkan terjadi pada Selasa (28/10/2025) malam. Drone Israel menghantam rumah keluarga al-Banna di kawasan al-Sabra, selatan Kota Gaza, menewaskan empat orang dan melukai sembilan lainnya, termasuk satu anak dan satu bayi. Beberapa korban dilaporkan masih tertimbun reruntuhan bangunan.
Di lokasi lain, satu warga Palestina tewas dan sejumlah lainnya luka-luka akibat serangan terhadap tenda pengungsi di selatan kamp Nuseirat, wilayah tengah Gaza. Serangan terpisah di Khan Yunis juga menewaskan lima orang saat sebuah kendaraan dibombardir di jalan umum.
Wilayah padat penduduk seperti kamp pengungsi al-Shati, Jalan Abu Hasira di barat Gaza, serta kawasan al-Zeitoun di timur kota turut menjadi sasaran serangan udara. Sementara itu, artileri Israel menggempur wilayah timur Deir al-Balah di Gaza tengah.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyatakan bahwa militer telah diperintahkan untuk melancarkan serangan “kuat dan segera” ke Gaza, meski sebelumnya telah diumumkan gencatan senjata yang berlaku sejak 11 Oktober 2025.
Data medis terbaru menunjukkan bahwa jumlah korban tewas di Gaza sejak awal agresi Israel pada 7 Oktober 2023 telah mencapai 68.531 jiwa, mayoritas di antaranya adalah anak-anak dan perempuan. Jumlah korban luka tercatat 170.402 orang, dengan ribuan lainnya masih tertimbun puing bangunan dan belum dapat dijangkau oleh tim penyelamat.
Sejak gencatan senjata diberlakukan, 94 warga Palestina dilaporkan tewas dan 344 lainnya mengalami luka-luka. Sebanyak 474 jenazah telah ditemukan dari berbagai lokasi serangan, dan dari 195 jenazah yang baru-baru ini dikembalikan oleh pihak Israel, 75 di antaranya telah berhasil diidentifikasi oleh otoritas Palestina.
Situasi ini kembali menegaskan rapuhnya komitmen terhadap perdamaian di kawasan tersebut. Serangan yang terus berlanjut di tengah janji gencatan senjata memicu kekhawatiran akan eskalasi lebih lanjut dan memperburuk krisis kemanusiaan yang telah berlangsung selama lebih dari dua tahun.
Sementara itu, komunitas internasional masih sibuk menyusun pernyataan diplomatik yang terdengar sopan tapi tak berdaya. Dunia menonton, mencatat, dan mengutuk—tapi Gaza tetap terbakar.
Israel mungkin mengklaim bahwa ini adalah “pertahanan diri.” Tapi ketika bom dijatuhkan ke tenda pengungsi, rumah sakit, dan zona aman, pertanyaannya bukan lagi soal strategi militer. Ini soal nurani. Dan jika nurani sudah mati, maka yang tersisa hanyalah kekejian yang dibungkus retorika.
Gencatan senjata? Di Gaza, itu hanya mitos. Yang nyata adalah suara dentuman, tangisan anak-anak, dan tubuh-tubuh kecil yang tak sempat tumbuh besar.


