JAKARTAMU.COM | Gencatan senjata seharusnya membawa napas lega bagi warga Jalur Gaza. Tetapi fakta menunjukkan gencatan senjata belum sepenuhnya menghentikan laju kematian. Hingga Januari 2026, jumlah korban tewas akibat agresi yang pecah sejak Oktober 2023 kini melampaui angka 71.662 jiwa. Ironisnya, di tengah kesepakatan penghentian kekerasan yang telah berlaku sejak Oktober tahun lalu, nyawa warga sipil termasuk bayi yang baru lahir terus melayang, baik akibat peluru maupun ancaman cuaca dingin yang ekstrem.
Laporan terbaru dari otoritas kesehatan setempat yang dilansir kantor berita Palestina, WAFA, menyebutkan bahwa mayoritas korban adalah perempuan dan anak-anak. Selain korban tewas, tercatat sedikitnya 171.428 orang mengalami luka-luka. Namun, angka-angka ini diyakini hanyalah “puncak gunung es” dari tragedi kemanusiaan yang sebenarnya. Ribuan jasad diduga masih tertimbun di bawah reruntuhan bangunan yang luluh lantak, tak terjangkau oleh tim penyelamat yang keterbatasan peralatan dan akses.
Dalam 24 jam terakhir, eskalasi di lapangan kembali memakan korban. Sedikitnya dua warga dilaporkan tewas dan sembilan lainnya luka-luka akibat tembakan. Sejak gencatan senjata resmi diberlakukan pada 11 Oktober lalu, akumulasi korban tewas pasca-kesepakatan tersebut telah mencapai 488 jiwa, sementara 1.350 orang lainnya terluka.
Tragedi Musim Dingin
Penderitaan di Jalur Gaza kian berlapis saat musim dingin menyergap. Di tengah kelangkaan bahan bakar dan hancurnya fasilitas kesehatan, cuaca dingin kini menjadi pembunuh senyap bagi mereka yang paling rentan.

Kabar duka datang dari Rumah Sakit Al-Rantisi, di mana seorang bayi berusia 12 hari mengembuskan napas terakhirnya akibat suhu dingin yang ekstrem. Kematian bayi mungil ini menambah panjang daftar anak-anak yang tewas akibat kedinginan sejak awal musim dingin, yang kini jumlahnya mencapai 11 jiwa.
Bagi warga yang bertahan hidup, kondisi di lapangan tetap mencekam. Tim ambulans dan kru pertahanan sipil masih berjuang keras menembus blokade puing-puing untuk mengevakuasi korban. Setidaknya 714 jenazah baru berhasil diangkat dari balik reruntuhan sejak gencatan senjata dimulai, sebuah angka yang terus mengingatkan dunia bahwa luka di Gaza masih jauh dari kata sembuh.
Hingga saat ini, komunitas internasional terus menyoroti efektivitas gencatan senjata yang ada. Di tengah reruntuhan dan tenda-tenda pengungsi yang tak sanggup menahan beku, warga Gaza hanya bisa menanti kepastian kapan kehidupan mereka benar-benar akan terlindungi dari ancaman kematian yang datang dari segala arah.


